Artikel Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Ujian Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ujian Nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

Ujian (Kejujuran) Nasional

Oleh : Yayan Suparman
          Guru bahasa Arab di MA Al-Huda Ciparay Kabupaten Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Forum Guru
          Koran Pikiran Rakyat, Selasa 20 Maret 2012


Ujian Nasional (UN) 2012 tidak lama lagi akan segera dilaksanakan. Tanggal 16-19 April mendatang siswa SMA dan yang sederajat akan terlebih dulu menghadapi UN. Setelah itu pada tanggal 23-26 April akan dilaksanakan UN untuk SMP. Selanjutnya, tanggal 8-10 Mei akan dilaksanakan UN SD. Sebagaimana UN sebelumnya, UN tahun ini masih juga memberikan efek psikologis yang sama bagi siswa, guru, dan juga orangtua siswa sehingga pelaksanaannya tetap menjadi polemic di masyarakat.
Kendati format penilaian kelulusan sudah berubah karena menyertakan 40 persen nilai sekolah, UN masih menjadi momok menakutkan bagi banyak siswa, guru, dan orangtua. Enam puluh persen nilai UN masih dinilai terlalu dominant sehingga menjadikan siswa merasa tidak aman dengan kelulusannya. Ketakutan terhadap ketidaklulusan ini pada akhirnya memberi andil besar atas terjadinya sikap tidak jujur saat menjalankan UN. Masih segar dalam ingatan kita pada tahun lalu terjadi kasus menyontek missal yang terjadi di salah satu SD di Surabaya. Hal itu semata-mata terjadi karena ketakutan pihak sekolah dan siswanya seandainya tidak lulus UN. Hal serupa sangat mungkin terjaditahun ini dengan alas an ketakutan yang sama.
Jika ita berani jjur, ketidajujuran saat menghadapi UN memang sudah terjadi secara missal. Dari siswa, sekolah, sampai pejabat pendidikan daerah banyak melakukan ketidakjujuran itu. Ketakutan terhadap UN sepertinya telah mengubah banyak orang kehilangan rasa kejujurannya. Banyak siswa yang diketahui memanfaatkan joki UN dengan membeli kunci jawaban dengan harga yang sangat mahal, meskipun jawabannya belum tentu benar. Sudah banyak siswa yang tertipu joki gadungan, tetapi tetap saja karena takut tidak lulus UN mereka masih saja mencari joki saat menghadapi UN.
Tak jauh beda dengan siswanya, oknum guru-guru sekolah pun kerap melakukan ketidakjujuran yang sama. Tim sukses UN yang dibentuk sekolah sering kali menjadi tim pembocor soal dan jawaban bagi siswanya. Ketidakjujuran itu melanggeng seperti biasa karena terbungkus alasan membantu siswa. Sebaliknya, jika mereka tidak melakukan pembocoran itu mereka merasa mengorbankan siswanya.
Setali tiga uang, oknum pejabat pendidikan daerah ikut-ikutan tidak jujur. Dengan alasan menjaga nama baik daerah agar tidak dikenal sebagai daerah bodoh karena banyak siswanya yang tidak lulus UN, oknum pejabat pendidikan daerah pun banyak melakukan kecurangan. Sayangnya, tindakan ini pun seolah menjadi hal lumrah bahkan berkesan menjadi tindakan heroik bagi daerahnya.
Jika kita memahami hakikat UN ini sebagai alat untuk mengevaluasi kualitas pendidikan kita, sekaligus sebagai motivator agar seluruh perangkat pendidikan selalu bekerja keras untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan nasional, tidak seharusnya UN ini disikapi dengan ketidakjujuran.

Ujian Nasional, Prestasi "Yes" Jujur Harus!

Oleh : Suleha
          Guru di SMA Negeri 1 Mandirancan, Kabupaten Kuningan
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Forum Guru
          Koran Pikiran Rakyat, Senin 16 April 2012
 

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menyebutkan 157.717 siswa SMA, 199.642 siswa SMK, dan 40.384 siswa madrasah aliyah (MA), hari senin (16/4) ini secara serentak akan mengikuti Ujian Nasional (UN) Tahun Ajaran 2011/2012. Pelaksanaan UN menghabiskan dana yang cukup besar sehingga pelaksanaan UN betul-betul harus sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan sebanding dengan dana yang dikeluarkan. Oleh karena itu, kita menyambut baik moto pelaksanaan UN tahun pelajaran 2011/2012 yang diusung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu �Prestasi Yes Jujur Harus�.
Dengan moto itu, terbersit harapan, UN dapat meningkatkan prestasi siswa dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran pada semua yang terlibat dalam UN. Sebagai evaluasi, UN sudah semestinya dapat memberikan gambaran yang utuh tentang kemampuan kompotensi siwa di setiap sekolah, sesuai standar kelulusan yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.
Menurut Kadisdik Jabar Wahyudin Zakarsy, nilai UN Jabar selama tiga tahun berturut-turut menempati peringkat kedua terbaik secara Nasional. Akan tetapi, hal tersebut berbanding terbalik dengan tingkat kejujuran dalam pelaksanaan UN. Tahun 2010 Jabar meraih peringkat ke-15 dan tahun 2011 merosot ke peringkat ke 16.
Kita patutu apresiasi semangat yang dikumandangkan oleh perwakilan siswa 22 SMA di kota Bandung yang memproklamasikan gerakan �Mandiri Terpercaya-Gerakan Anti Nyontek Nasional� yang disingkat Mantep GAN, di gedung Indonesia Menggugat (�PR�, 13/4). Gerakan serupa dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan agar peserta didik, pendidik, tenagakependidikan, omite sekolah/Madrasah, Dean Pendidikan, dan pejabat pengelola pendidikan, melaksanakan UN jujur dan berprestasi melalui ikrar sebagai berikut.
Pertama, siap membangun budaya pembelajaran berdasarkan ajaran agama dan nilai-nilai utama karakter bangsa, yaiut beriman, bertakwa, jujur, bersih, santun, cerdas, disiplin, kreatif, kerja keras, dan bertanggung jawab. Kedua, siap menyukseskan UN dengan jujur dan berprestasi. Ketiga, siap melaksanakandan menerima pendidikan antikorupsi.
Sebagai gerakan moral tentu saja tidak bersikap mengikat, tetapi paligtidak semestinya menjadi motivasi bagi semua pemangku kepentingan yang terkait dengan melaksanakan UN, untuk mewujudkan prestasi belajar siswa yang mengedepankan kejujuran dan hati nurani. Untuk itu, guru dalam melaksanakan tugas baik sebagai pengawas maupun kelompok kerja panitia UN di sekolah, hendaknya berpegang teguh kepada Prosedur Operasi Standar UN yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan yang mengatur pelaksanaan UN agar berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Pelaksanaan UN tahun ini menjadi pertaruhan bagi kredibilitas kita sebagai guru yang professional. Sinyalemen dan tudingan tentang keterlibatan guru dan institusi sekolah secara kelembagaan dalam kecurangan pelaksanaanUN tahun-tahun yang lalu harus kita jawab dengan pelaksanaan UN yang jujur, bersih, dan melahirkan siswa yang berprestasi sesuai dengan harapan orang tua siswa dan masyarakat.
Jika siswa merasa optimis untuk bisa meraih prestasi (bukan hanya prestise) dalam melaksanakan UN, lalu mengapa guru masih merasa pesiminstis akan kemampuan siswanya sendiri?