Artikel Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Tribun Jabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tribun Jabar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Menyikapi Hasil UN

Oleh : Septiardi Prasetyo
           Guru MI At-Taufiq di Yayasan Pendidikan Al-Hikmah


Tanggal 24 Mei peserta didik SMA/MA/SMK mulai menerima hasil Ujian Nasional (UN)-nya. Saya ucapkan selamat kepada kalian dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas pencapaian yang diperoleh. Bagi yang belum menerima hasil UN-nya, saya berpesan untuk tidak bosan berdoa supaya memperoleh ketenangan dan hasil terbaik.
Setiap sekolah memiliki cara tersendiri dalam mengumumkan hasil UN peserta didiknya. Ada yang mengirimkannya ke rumah via pos. Ada pula pula yang mengumpulkan peserta didiknya di sekolah. Kemudian membagikan hasil UN berdasarkan skenario yang disusun sedemikian rupa oleh para guru untuk memberi kesan tak terlupakan bagi peserta didiknya. Misal guru berpura-pura mengumumkan nama-nama peserta didik yang tidak lulus. Tapi kenyataannya semua peserta didiknya lulus.
Namun cara yang lain adalah mengundang para orangtua ke sekolah. Selain mencegah aksi coret-coret seragam sekolah dan konvoi kendaraan bermotor juga untuk memberikan penjelasan perihal kelanjutan pendidikan anak-anaknya. Seperti strategi pemilihan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang paralel dengan minat dan bakat siswa.
Pada acara tersebut pihak sekolah dapat menjelaskan secara langsung kepada orang tua tentang ujian program paket bagi peserta didik yang tidak lulus dan tidak mau mengulang setahun lagi. Walaupun sebagian masyarakat masih memandang remeh dengan ujian paket namun saat ini ijasah ujian paket tidak berbeda dengan ijasah di sekolah pada umumnya.
Berdasarkan lampiran POS UN SMA/MA/SMK, SMP/MA/SMK peserta didik dinyatakan lulun UN bila nilai rata-rata paling rendah 5,5 dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0. Melalui formula ini diharapkan pemerintah dapat memetakan tingkat kemampuan siswa pada mata pelajaran yang di UN-kan, kualitas guru, pengadaan sarana pendidikan di sekolah dan sebagainya. UN bisa digunakan untuk memetakan pendidikan Indonesia sehingga kelulusan tidak perlu dipaksakan tercapai 100 persen. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh bahwa semua pihak hendaknya tidak memaksakan memperoleh hasil Ujian Nasional (UN) lulus 100 persen.
Namun sayangnya fungsi UN untuk memetakan kondisi pendidikan Indonesia tidak berjalan sejak pertama kali diberlakukan tahun 2004. Pakar pendidikan dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto mengatakan Delapan tahun UN dilaksanakan, namun sampai sekarang masyarakat tidak tahu kekuatan utama siswa di Indonesia, apakah di statistik, aljabar, geometri, atau pelajaran lainnya. Seharusnya jika tujuan UN benar adalah untuk pemetaan, maka masyarakat tahu hal ini. Beliau melanjutkan tidak pernah menemukan adanya laporan hasil pemetaan pendidikan dari Kementerian Pendidikan atas hasil UN.
Belum ditindaklanjutinya hasil UN oleh pemerintah memicu protes dari sebagian pihak yang menilainya sebagai ketidakseriusan dalam peningkatan mutu pendidikan dan pemborosan anggaran. Bila pemerintah tidak segera menyikapi hasil UN ini maka akan menambah daftar keraguaan masyarakat akan kredibilitas pelaksanaan dan hasil UN itu sendiri.
Selain untuk memetakan kondisi pendidikan Indonesia, pemerintah berencana mengintegrasikan UN sebagai syarat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Bila rencana ini terlaksana maka akan menghemat anggaran yang cukup besar. Namun indikasi praktek kecurangan saat penyelenggaraan dan pengkatrolan hasil UN memperbesar keraguan kredibilitas UN. Menurut Raihan Iskandar, anggota Komisi X DPR, �Selama masih terjadi berbagai kecurangan dalam penyelenggaraan UN, kredibilitas hasil dari UN patut dipertanyakan dan belum layak dijadikan tiket masuk ke PTN.�
Selain itu, perbedaan sistem penilaian UN dengan SNMPTN menjadi kendala pengintegrasian keduanya. Menurut Wakil Rektor I Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Nurfina Aznam,"Sistem penilaian ujian nasional dengan ujian masuk perguruan tinggi negeri masih tidak sebanding. Ukuran kemampuan yang dinilai di kedua ujian tersebut berbeda." Bahkan untuk untuk calon mahasiswa yang mengikuti jalur undangan selain nilai UN, nilai rapor dan prestasi peserta didik menjadi salah satu syarat penilaian. Sehingga rencana untuk mengintegrasikan UN dengan SNMPTN sebagai satu-satunya syarat memasuki PTN mengabaikan penilaian objektif peserta didik selama tiga tahun dan prestasi yang dimilikinya.
Menyikapi hasil UN sebagai penentu �hidup dan matinya� peserta didik merupakan bentuk kedzoliman terhadap jerih payah belajar mereka selama tiga tahun. Dan akan lebih dzolim lagi bila hasil UN para peserta didik di seluruh Indonesia disia-siakan begitu saja. Tidak dijadikan bahan evaluasi dan kajian yang komprehensif yang memberikan gambaran tentang kelemahan dan kekurangan pendidikan di Indonesia. Rahim bagi lahirnya kebijakan-kebijakan strategis dan tepat sasaran. Sehingga jangan heran bila Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menurut United Nations Deveopment Program turun peringkat. Dari peringkat 108 pada tahun 2010 turun ke peringkat 124 pada tahun 2011. Menurut mereka bobot terbesar penurunan ini terjadi pada dunia pendidikan.

Sabtu, 02 Juni 2012

Ujian Pendidikan Karakter


Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di Madrasah Ibtidaiyah At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa Mei 2012
Dua minggu ke depan, kesaktian pendidikan karakter akan diuji. Karena pada tanggal 3 Juni 2012, diva pop dunia Lady Gaga direncanakan menggelar tur konser dunia bertajuk The Born This Way Ball Tour 2012 di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Rencana konser artis asal Amerika bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini ternyata telah menuai sejumlah penolakan dari berbagai unsur masyarakat. Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Organisasi Masyarakat (Ormas) seperti Front Pembela Islam (FPI), Partai Politik (Parpol) seperti Partai Persatuan Pembangunan, hingga Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf ikut menolak. Hal ini mendorong Polda Metro Jaya untuk tidak memberikan ijin konser tersebut.
Bagi sebagian Anak Baru Gede (ABG),  lagu-lagu dari artis berciri khas pakaian provokatif dan ekstravagan ini mungkin sudah tidak asing lagi. Namun sayangnya sedikit dari mereka tidak menyadari nilai-nilai negatif dalam cara berpenampilan dan di setiap lantunan bait-bait lagunya. Hal ini terlihat dari larisnya 40.000 lembar tiket konser hanya dalam hitungan satu hingga dua hari saja.
Penolakan terhadap konser Lady Gaga tidak terjadi di Indonesia saja. Negara sekuler seperti Korea Selatan dan Negara komunis seperti Republik Rakyat China (RRC) pun menunjukkan sikap yang sama. Bahkan untuk memproteksi generasi muda dari nilai-nilai yang tidak selaras dengan budaya bangsa mereka, pemerintah China melarang keras peredaran musik dan penayangan video Lady Gaga di situs youtube.
Fenomena penolakan konser musik Lady Gaga oleh beberapa Negara tentu bukan tanpa sebab. Banyak pihak merasa khawatir dengan muatan-muatan negatif yang terkandung di penampilan dan karya-karyanya. Bahkan ada yang terang-terangan menolaknya karena karya Lady Gaga dinilai telah menghina dan merendahkan keyakinan sebuah agama. Berikut beberapa alasan mengapa konser Lady Gaga memperoleh penolakan dari banyak pihak.
Pertama, penistaan kepada agama. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, saya kutipkan untuk anda bait pertama dari salah satu single-nya yang berjudul Judas untuk direnungkan bersama. I�m in love with Judas, Judas. When he comes to me, I am ready. I�ll wash his feet with my hair if he needs. Forgive him when his tongue lies through his brain. Even after three times, he betrays me.
Dari bait pertama lagu Judas di atas, kita bisa melihat gambaran sosok Judas yang diperlakukan layaknya manusia mulia dan agung. Bahkan para audiensseolah-olah diperintahkan untuk membasuh kaki Judas dengan rambut-rambut mereka. Bait lagu ini paradok dengan keyakinan umat Kristen Katolik dan Protestan di dunia yang menganggap Judas sebagai manusia hina. Karena telah melakukan dosa besar dengan mengkhianati Jesus demi tiga puluh keping uang perak. Hal inilah yang memicu penolakan konser Lady Gaga oleh kelompok Kristen konservatif di Korea Selatan.
Kedua, pornografi. Dalam video klipnya, ia kerap berpenampilan separuh telanjang hingga hampir telanjang! Disertai gerakan-gerakan erotis yang melambangkan kegiatan seks bebas. Tidak sebatas penampilan di atas panggung saja, kontroversi cara berpakaiannya pun terjadi di luar panggung. Saya ambil satu contoh ketika ia menghadiri acara promosi album terbarunya Born This Way di Meksiko beberapa waktu yang lalu. Di mana ia memakai gaun tipis tembus pandang berwarna biru yang membuatnya nyaris terlihat telanjang. Tidak hanya itu pose-pose vulgarnya pun sempat menghiasi cover majalah Rolling Stones  dan masih banyak contoh yang lainnya.
Ketiga, praktek pemujaan setan. Lady Gaga kerap menyebut dirinya Mother Monster. Di album kedua The Fame Monsterlagu-lagunya mengusung tema monster, vampir, dan kematian. Pada album berikutnya, Born This Way, sebagian pengamat menilainya seperti ingin mendirikan sekte kepercayaan tersendiri yang mengarah ke pemujaan setan. Begitupun dalam dekorasi panggung, aksi pentas dan video-videonya sering menampilkan simbol-simbol satanic dan illuminati. Seperti simbol salib terbalik yang melambangkan penentangan dan penghinaan kepada keimanan Kristiani. Simbol Baphometatau kepala domba bertanduk sangat panjang yang melambangkan setan yang paling berkuasa di dunia penyembahan setan. Simbol pentagram yang melambangkan ilmu sihir. Simbol mata satu yang melambangkan illuminati dan kesetiaan.
Selain simbol-simbol setan, tari-tarian dan lirik lagu Lady Gaga diyakini mengandung unsur-unsur pemujaan kepada Lucifer, Baphomet dan Dewa Matahari (Ra). Sebagai gambaran saya kutipkan bait pertama dari single-nya berjudul Alejandro. I know that we are young. And I know you may love me. But I just can�t be with you like this anymore. Alejandro. Mungkin anda bertanya-tanya, siapakah Alejandro? Kalau membaca lirik atau mendengar lagu tanpa menonton video klipnya kita tidak dapat mengungkap siapa Alejandro. Dalam videonya, Alejandro dimaksudkan kepada tuhan. Lirik lagu ini merupakan pernyataan terbuka pengingkaran kepada tuhan dan penyerahan dirinya kepada setan.
Selain ketiga uraian di atas, masih banyak kontroversi yang mengundang reaksi kecaman dan penolakan publik. Seperti dukungannya kepada hubungan sesama jenis seperti dalam single-nya berjudul Born This Way. Gaya berbusana yang aneh seperti menggunakan pakaian yang terbuat dari daging mentah. Karir masa lalunya sebagai penari Burlesque dan yang lainnya. Sepertinya hal-hal konstroversial merupakan daya tarik terbesar Lady Gaga untuk mendongkrak popularitasnya di industri musik dunia.

Pendidikan Karakter
Peradaban nenek moyang kita sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan sopan-santun yang tercermin dalam warisan kebudayaan dan adat-istiadat tradisional. Pendidikan karakter yang tengah digagas saat ini merupakan upaya dunia pendidikan kita untuk mengembalikan dan memperkuat jati diri bangsa yang terasa kian memudar tergerus arus globalisasi dan liberalisasi membabi buta.
Menyikapi fenomena aktual Lady Gaga yang tengah menjadi trend topic pembicaraan di masyarakat. Muncul pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab pada pendidikan karakter bangsa? Tidak mungkin tanggung jawab ini dipikul sendirian oleh para guru di sekolah saja. Karena fungsi dan peran guru sebatas pendidikan di sekolah. Ketika pulang ke rumah maka tanggung jawab berpindah kepada orang tua. Namun orang tua pun memiliki keterbatasan dalam membendung pengaruh negatif dari arus globalisasi saat ini. Di sinilah peran pemerintah sebagai pembela di garis terdepan dalam menfilter nilai-nilai negatif dari luar yang berpotensi merusak karakter generasi muda.
Sampai saat ini saya belum mendengar Kemendiknas menyuarakan sikapnya. Begitupun dengan pihak Istana. Sebagai seorang guru, saya prihatin sekaligus geram dengan perkembangan saat ini. Hanya karena seorang bernama Lady Gaga, pendidikan karakter bangsa dipertaruhkan. Seolah-olah para promotor konser tidak memiliki rasa belas kasih kepada para generasi muda yang pikiran dan hatinya begitu polos, putih, murni yang belum ternoda hitamnya hawa nafsu setan. Demi mengeruk keuntungan dari selembar tiket konser.

Minggu, 13 Mei 2012

5 Dosa Besar UN

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru MI At-Taufiq di Yayasan Pendidikan Al-Hikmah
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa 8 Mei 2012


Mulai hari senin dan dua hari berikutnya, anak-anak kelas enam Sekolah Dasar (SD)/ Madrasah Ibtidaiyah (MI) menempuh Ujian Nasional (UN). Ujian pamungkas yang akan menentukan tuntas tidaknya proses belajar mereka selama enam tahun di sekolah. Bukanlah perkara kecil dalam membimbing dan menguatkan mental mereka hingga detik-detik terakhir UN. Karena pernah terjadi saat pelaksanaan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) seorang siswa belum sampai ke sekolah sedangkan pengawas ujian akan membagikan Lembar Jawab Komputer (LJK). Spontan saja wali kelas panik dan mengambil langkah seribu mendatangi rumah siswa. Ternyata siswa tersebut masih ada di rumah dan terkesan enggan menempuh UASBN-nya. Dengan pendekatan elegan dan simpatik, akhirnya wali kelas berhasil membujuk siswa tersebut untuk mengikuti UASBN. Belakangan terkuak bahwa ketidaksiapan faktor mental yang membuat siswa tersebut tidak bersemangat menempuh ujiannya.
UN sebagai salah  satu instrumen kelulusan siswa telah memperoleh banyak penolakan dari berbagai kalangan sejak tahun pertama rencana pelaksanaannya akan digulirkan. Penolakan ini bukanlah isapan jempol belaka. Karena realita dunia pendidikan di tanah air dipandang belum memungkinkan dan belum saatnya UN diberlakukan. Masih terlalu lebar jurang kesenjangan penyediaan insfrastruktur dan fasilitas pendidikan antar daerah di Indonesia. Hal ini akan melahirkan rasa ketidakadilan pada masyarakat di daerah-daerah tertinggal bila UN tetap dilaksanakan. Tapi pemerintah bergeming dan bersikeras menerapkannya.
Menerapkan UN berarti telah melukai rasa ketidakadilan yang merupakan perbuatan �dosa.� Bila menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara maka perbuatan tersebut termasuk �dosa besar.� Bukan saja telah berdosa kepada dunia pendidikan, pelaksanaan UN telah mencoreng kewibawaan hukum di Negara hukum ini. Berikut 5 dosa besar UN yang telah genap berlangsung selama lima tahun.
Pertama, melanggar putusan Mahkamah Agung. Berdasarkan perkara nomor: 296K/Pdt/2008, MA telah memerintahkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melarang melaksanaan UN di seluruh Indonesia. Keputusan MA ini menguatkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sebelumya yang dikeluarkan pada 6 Desember 2007. Sebagai Negara hukum, setiap warga negara wajib mematuhi hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Terlebih bagi institusi tertinggi dunia pendidikan negeri ini yang harus bisa menjadi contoh pertama bagi masyarakat dalam mentaati hukum.
Kedua, belum meratanya sarana-prasarana pendidikan di seluruh Indonesia. Menurut data Kemendikbud bahwa sebanyak 194.000 ruang kelas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), di Indonesia rusak berat dan perlu segera direnovasi. Sekolah-sekolah tersebut sudah tidak layak dijadikan tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Bahkan berpotensi membahayakan siswa yang sedang belajar karena bangunan yang rapuh sewaktu-waktu bisa saja rubuh. Jumlah sekolah tersebut akan berlipat-lipat ganda bila menyangkut ketersediaan fasilitas sekolah yang masih minim dan jauh dari standar kebutuhan pendidikan nasional. Kualitas sarana prasarana pembelajaran akan mempengaruhi kualitas KBM dan output lulusan. Maka tidaklah berlebihan bila pemerintah terlebih dahulu memfokuskan penyetandaran fasilitas pendidikan di seluruh tanah air sebelum menerapkan sistem evaluasi berstandar nasional.
Ketiga, belum meratanya kualitas guru.  Berdasarkan data Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan (PMPTK) Depdiknas, jumlah guru honorer di Indonesia tahun 2007 mencapai 922.308 guru, terdiri dari 472.475 guru honorer di sekolah negeri dan 449.883 guru di sekolah swasta. Kini angka statistik tersebut cenderung belum banyak berubahan. Karena tingkat pertumbuhan jumlah guru honorer belum mampu diimbangi dengan pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) setiap tahunnya. Walaupun kini sedang berjalan program sertifikasi guru tetapi program ini malah menambah polemik permasalahan baru. Terutama tentang kebijakan guru yang telah memenuhi syarat sertifikasi.
Keempat, membengkaknya anggaran biaya UN. Tahun 2009, UN menghabiskan biaya anggaran  Rp.572 Milyar, Tahun 2010 Rp.590 Milyar, Tahun 2011 Rp.600 Milyar dan Tahun ini Rp.600 Milyar. Anggaran tersebut belum termasuk biaya pendistribusian soal hingga ke daerah-daerah. Oleh sebagian kalangan pelaksanaan UN hanya pemborosan anggaran saja. Karena masih banyak permasalahan mendesak di dunia pendidikan yang memerlukan penangan segera seperti tingginya angka putus sekolah. Menurut data Komnas Perlindungan Anak tahun 2007 di 33 propinsi tercatat sekitar 11,7 juta jiwa putus sekolah.
Kelima, mengerdilkan makna pendidikan. Pendidikan merupakan upaya sadar untuk memanusiakan manusia. Pada prinsipnya pendidikan harus bisa menyentuh tiga aspek yang terdapat dalam diri siswa. Aspek kognitif atau pengetahuan, aspek afektif atau sikap, dan aspek psikomotor atau keterampilan. Ketiga aspek tersebut merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan pada diri siswa. Dari ketiga aspek mendasar tersebut, UN hanya mampu mengevaluasi satu aspek saja. Inilah yang menjadi salah satu penolakan banyak kalangan pendidikan. Karena UN hanya fokus pada aspek kognitif atau pengetahuan saja. Sedangkan kedua aspek dasar lainnya tidak digunakan. Begitupun UN dipandang menganaktirikan mata pelajaran-mata pelajaran yang tidak di-UN-kan seperti mata pelajaran agama, Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn), olah raga, pendidikan seni budaya dan lainnya. Seolah-olah mutu pendidikan kita ditentukan oleh mata pelajaran yang di UN-kan saja. Yang lebih memprihatinkan usaha belajar siswa selama bertahun-tahun seolah-olah tidak dijadikan pertimbangan sebagai syarat kelulusan. Karena pada ujung-ujungnya hanya ditentukan oleh beberapa hari ujian saja.
Sudah menjadi sifat alamiah jika setiap individu diciptakan dengan potensi dan kemampuan yang tidak sama. Kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam mengelola potensi yang berbeda tersebut. Kemudian mendominankannya supaya bisa memberikan kontribusi terbaik bagi bangsanya.

Sabtu, 14 April 2012

Membentuk Budaya Literasi Siswa

Oleh : Wisnu Nugraha
          Guru di Ponpes Al-Basyariyyah Cigondewah Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Jumat 30 Maret 2012


Dalam beberapa kali kesempatan, sambil bercanda, saya sering melontarkan pertanyaan kepada teman-teman guru tentang siapa penyair Indonesia yang mereka kenal. Jawaban yang saya peroleh selalu sama, yaitu Chailril Anwar. Lalu ketika diajukan pertanyaan lanjutan apa puisi yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar. Jawaban seragam pun nyaris sama seperti jawaban yang pertama,�Aku�. Padahal dalam sejarah sastra Indonesia ada banyak penyair Indonesia yang hebat dan �Aku� bukan satu-satuya puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar tetapi mengapa jawabannya tidak berubah.
Kondisi di atas seolah ingin mengkonfirmasi beberapa hal tentang pendidikan Indonesia. Pertama, inilah akibatnya kalau pendidikan kita dikelola secara sentralistik-uniformistik. Siswa dipaksa untuk melahap kurikulum pembelajaran yang seragam, cara berpikir yang seragam, cara berpikir yangseragam, cara berbicara yang seragam, bahkan pakaian pun didesain untuk seragam.
Kedua, terbatasnya jawaban sosok �Chairil Anwar� untuk pertanyaan siapa penyair Indonesia, dan �Aku� untuk pertanyaan apa puisi yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar menunjukkan bahwa budaya literasi siswa Indonesia masih sangat rendah.
Literasi pada dasarnya mengacu pada kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan ini juga tidak bisa dilepaskan dari kemampuan menyimak dan berbicara. Dengan demikian, literasi identik dengan kemampuan menyeluruh keterampilan berbahasa yangterdiri dari kemampuan mnyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu seorang dikatakan literate (terdidik) apabila ia menguasai keempat keterampilan berbahasa. Dan keempat keterampilan berbahasa tersebut, khususnya keterampilan membaca dan menulis perlu terus dipelajari, dilatih, dan dibiasakan secara konsisten.
Bila seorang anak tidak mengalami pembudayaan dan pembiasaan membaca di rumah dan sekolah, maka kemampuan dan kebiasaan membacanya hampir dipastikan tidak akan berkembang. Tanpa adanya kemampuan membaca, kemampuan menulis seseorang tentu saja tidak akan tumbuh. Dengan demikian, kemampuan literasi harus menjadi jantung dari semua proses pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah sampai ke perguruan tinggi.
Menurut Bambang Wisudo, salah seorang pegiat pedagogi dan literasi kritis, salah satu syarat utama untuk menjadikan literasi sebagai jantung dalam proses pendidikan  di sekolah adalah ketersediaan buku-buku di sekolah. Artinya membentuk budaya literasi siswa meniscayakan sekolah menyediakan buku-buku yang dapat diakses tidak hanya terbatas pada buku paket. Arus diakui bahwa buku paket masih mendominasi sekolah-sekolah di Indonesia. Banyak guru yang masih memosisikan buku paket sebagai kitab suci dan satu-satunya sumber pengetahuan yang harus dihafal oleh semua siswa. Mereka menyampaikan materi persis seperti apa yang tertera pada buku paket yang menjadi pegangannya. Boleh jadi fenomena kasus �Chairil Anwar� dan �Aku� menjadi akibat dari dominasi buku paket di sekolah.
Oleh karena itu, sudah saatnya sekolah-sekolah mempunyai keberanian untuk melepaskan diri dari ketergantungan mereka terhadap buku paket. Di tingkat SD misalnya, guru bahasa Indonesia bisa menjadikan cerpen-cerpen anak yang sudah dimuat di Koran baik local maupun nasional sebagai bahan ajar. Di tingkat SMP, ada sederet buku sastra Indonesia untuk dijadikan bahan ajar untuk menumbuhkan budaya literasi, seperti Harimau-Harimau kaya Mochtar Lubis atau Calon Arang dan Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer, dan masih banyak lagi.
Sebagai referensi, kelompok Paedia membuat daftar bacaar untuk siswa SD sampai SMA. Daftar tersebut mencakup ratusan buku yang terdiri dari buku-buku fiksi dan nonfiksi. Dalam daftar bacaan tersebut ada buku kumpulan puisi, drama, feature, biografi, dan filsafat.
Di tingkat SMA misalnya, siswa telah �dihalalkan� untuk membaca karya sastra karya Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, William Shakespeare, sampai penulis Amerika Latin Gabriel Garcia-Marquez dengan bukunya yang terkenal One Hundred Years of Solitude. Untuk nonfiksi mereka diminta membaca antara lain buku karya St. Agustine, John Locke, Albert Einstein, Charles Darwin, Immanuel Kant, Nicolo Machieavelli, sampai buku  The Communist Manifesto karya Karl Marx dan Frederick Engels.
Mengajari anak membaca buku-buku semacam itu tidak mudah membalikkan telapak tangan. Proses tersebut meniscayakan guru-guru mengerahkan tenaga, pikiran, kesabaran, dan tentu saja wawasan yang sangat luas.
Kalau literasi semacam itu dijadikan jantung pembelajaran, maka beberap tahun ke depan, saya yakin budaya literasi di Indonesia akan betul-betul terbentuk.
Tidak hanya terjadi pada siswa, tapi pada masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Disiplin Tanpa Hukuman

Oleh : Edi Kusmawan, S.Ag
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Jumat 23 Oktober 2009


Suatu hari, seorang siswa terlambat datang ke sekolah. Untuk menjaga ketertiban dan penegakan aturan sekolah, siswa tersebut dihukum. Untuk memberikan efek jera, siwa diperingatkan bahwa hukuman akan lebih berat lagi bila siswa tersebut mengulangi perbuatannya.
Bila kita renungkan, seberapa efektifkah upaya guru dalam mendisiplinkan siswa tersebut melalui hukuman? Kemudian, sampai kapan hukuman tersebut akan efektif? Ilustrasi di atas merupakan upaya penegakan disiplin melalui paksaan hukuman yang diterapkan bersifat memaksa dan cenderung kaku. Menurut psikolog Latif. S,�Disiplin itu merupakan suatu upaya pengendalian diri secara paksaan, dikaitkan dengan hukuman dan paksaan.�
Berdasarkan oengalaman, menegakkandisiplin melalui hukuman in terbukti efektif. Karena,  siswa cenderung cepat beradaptasi dalam menaati rambu-rambu dan norma-norma yang berlaku di sekolah. Hal ini akan memudahkan guru dalam menjalankan peran dan fungsinya di sekolah. Namun ada beberapa hal yang perlu diwaspadai jika hanya mengandalkan penegakan disiplin model ini.
Pertama, siswa mengidentikkan disiplin dengan upayamenghindar dari hukuman. Contoh, bagi siswa, membuang sampah sembarangan di lingkungan sekolah merupakan perilaku tidak disiplin. Ini artinya, hukuman bagi setiap pelanggar aturan.oleh sebab itu, sebisa mungkin para siswa akan menaati aturan karena takut dihkum. Tapi kemudian muncul pertanyaan, apakah penerapan penegakan disiplin model ini efektif juga ketika siswa di luar lingkungan sekolah, di mana pengawasan dan kepedulian masyarakat akan kebersihan masih relatif rendah?
Kedua, penerapan disiplin dengan paksaan tidak mampu mengubah perilaku dan karakter yang dimiliki siswa. Dalam media pemberitaan, kita sering menyaksikan berbagai kasus kenakalan remaja. Bila ditelusuri, ternyata siswa-siswa tersebut termasuk siswa yang taat dalam menegakan aturan yang berlaku di sekolah. Tetapi ketika mereka keluar dari lingkungan sekoalh, kasus kenakalan remaja selalu terjadi.
Ketiga, tidak memiliki inisiatif dalam berdisiplin. Siswa merasa perilaku disiplin adalah dorongan dari luar, bukan dari dalam dirinya. Mereka mengidentikkan disiplin sebagai upaya yang harus selalu diawasi dan pelanggarnya akan memperoleh konsekuensi atau hukuman.
Keempat, bagi siswa perilaku disiplin merupakan beban, hal ini disebabkan perilaku disiplin yangterbentuk pada diri siswa tidak disertai pemahaman akan manfaat dan keuntungan dari perilaku disiplinnya sehingga perilaku disiplin bukanlah panggilan dari dalam hati mereka, tetapi sebuah paksaan yang membebani pikiran dan perasaan mereka.
Menerapkan disiplin melalui paksaan hanya efektif dilakukan pada lingkungan yang selalu diawasi dan dalam ruang lingkup yang sempit. Siswa yang terbiasa disiplin di sekolah belum tentu sanggup menerapkannya di luar sekolah. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya untuk menumbuhkan sifat disiplin siswa berdasarkan kesadarannya. Maksud kesadaran ini adalah para siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang manfaat-manfaat yang dapat diperoleh bila menerapkan dan mengimplementasikannya di sekolah dan di lingkungan sekitar mereka. Siswa pun memahami kerugian yang bisa ditimbulkan bila tidak menerapkannya.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk menerapkan disiplin tanpa hukuman. Pertama, berilah para siswa contoh perilaku disiplin melalui pola sikap para guru di sekolah. Seperti kata pepatah, �pengalaman adalah guru yang paling bijak.� Dan bagi siswa, pembelajaran disiplin melalui contoh langsung dari para guru lebih memotivasi mereka untuk meniru perilaku yang sama.
Kedua, berikan pemahaman tentang keuntungan dan kerugian dari penerapan disiplin di sekolah dan di luar sekolah. Penjelasan yang diberikan dapat didekati dari berbagai sudut pandang ilmu. Contoh, ajak siswa untuk berperilaku bersih dengan cara membuang sampah pada tempatnya karena perilaku tersebut merupakan cerminan dari seorang yang berpendidikan. Dalam perspektif agama, kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan guru pun dapat menjelaskan manfaat dari perilaku disiplin dalam membuang sampah ini dalam berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan.
Ketiga, berikan kesempatan kepada para siswa dalam mengapresiasikan perilaku disiplinnya. Jangan biarkan mereka sendirian tanpa diberi wadah untuk mengapresiasikan perilaku disiplinnya. Misal, guru mengadakan jadwal piket piket untuk kebersihan kelas.
Keempat, sediakan sarana dan prasarana yang memadai. Ada kalanya siswa tidak berperilaku disiplin karena pihak sekolah tidak menyediakan fasilitas yang memadai. Misal, siswa dimotivasi untuk membuang sampah pada tempatnya. Tetapi karena tidak tersedia tempat sampah yang memadai, akhirnya siswa membuang sampah bukan pada tempatnya.
Kelima, berikan penghargaan kepada siswa yang menegakkan perilaku disiplin. Penghargaan ini penting diberikan untuk meningkatkan motivasi mereka dalam berdisiplin. Selain itu, penghargaan ini sebagai bukti perhatian guru dan sekolah kepada para siswa yang telah berusaha berperilaku disiplin.

Minggu, 08 April 2012

Menyikapi Penyalahgunaan Teknologi Ponsel

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini  pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa 15 Juni 2010


Kembali, pemberitaan tanah air dihebohkan oleh beredarna video mesum yang diduga mirip dengan artis cantik terkenal ibu kota dan vokalis band papan atas. Video ini terdiri atas dua bagian, masing-masing berdurasi 6 menit 49 deti dan 2 menit 30 detik. Awalnya masyarakat dapat mengunduh di situs www.kaskus.us,tetapi kemudian file di situs tersebut tidak bisa diunduh lagi. Video pun mulai menyebar melalui Bluetooth telepon selular (ponsel).
Peredaran video mesum yang melibatkan public figurebukanlah yang pertama kali saja. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat dikejutkan oleh peredaran video mesum yang melibatkan seoranganggota DPR RI dengan seorang artis dangdut ibu kota. Begitu besarnya perhatian masyarakat waktu itu, diberitakan bahwa video ini sempat beredar di situs Youtube.Hanya dalam satu hari saja video ini mampu menyedot perhatian 20 juta orang untuk  mengaksesnya.
Menyaksikan realita seperti ini, semua merasa prihatin dan khawatir. Terlebih bagi para orang tua yang memiliki anak usia remaja. Karena anak remaja yang sedang pada masa puberitas lebih rentan dipengaruhi oelh hal-hal negatif dari lingkungan sekitar mereka.
Faktor tingginya intensitas penetrasi informasi yang diterima seorang anak. Bilatidak diimbangi fungsi kontrol dari orang tua, bisa mengakibatkan anak lebih mudah terpengaruhi oleh hal-hal yang tidak kita harapkan. Hal ini diperparah lagi oleh semakin pesatnya teknologi komunikasi, ponsel. Bila sampai disalahgunakan, teknologi ini bisa memuluskan menyebarnya pengaruh negatif kepada anak remaja.
Saat ini, peran ponsel tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari kita. Bentuknya yang mungil dan ringan, memudahkan siapa saja untuk membawanya ke mana-mana. Fungsinya pun berkembang dari sekedar alat untuk berkomunikasi, menjadi alat untuk mengakses informasi dan hiburan. Bukan itu saja, harganya yang semakin terjangkau menjadikan ponsel bukan lagi sebagai barang eksklusif yang hanya dimiliki para eksekutif saja. Tetapi anak usia Sekolah Dasar (SD) pun sudah banyak yang telah menggunakannya. Oleh sebab itu dinas pendidikan (Disdik) kota Bandung mengeluarkan instruksi kepada sekolah agar memperketat pengawasan terhadap seluruh siswanya terkait dengan maraknya peredaran video panas di kalangan masyarakat.
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pihak sekolah dapat mengupayakan beberapa hal untuk mengurangi terjadinya penyalahgunaan ponsel oleh siswa di lingkungan sekolah.
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah melarang setiap siswa untuk membawa ponsel ke sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan dari penyalahgunaan ponsel dan pengaruh negatifnya bagi siswa. Andaikan para siswa harus dihadapkan pada keperuan mendesak, siswa dapat memanfaatkan telepon sekolah atau telepon umum yang tersedia di lingkungan sekolah.
Cara lain adalah siswa diperbolehkan membawa ponsel yang diperuntukkan untuk menelepon dan SMS aja. Siswa tidak diperkenankan membawa ponsel yang memiliki kemampuan untuk membuat dan membuka video, gambar dan mengakses internet.
Langkah selanjutnya adalah memperketat pengawasan kepada para siswa yang membawa ponsel ke sekolah. Secara berkala, para guru dapat melakukan razia kepada para siswa yang membawa ponsel ke sekolah. Hal ini dilakukan sebagai pengingat dan penegakkan disiplin bahwa alat komunikasi tidak diperkenankan dibawa siswa ke lingkungan sekolah.
Penting juga untuk meningkatkan �imunitas� siswa terhadap kemungkinan pengaruh buruk dari lingkungan sekitarnya melalui pendidikan agama yang berkarakter. Pendidikan agama yang tidak sekedar retorika dan konsep dasar yang jauh dari implementasi sehari-hari.
Selanjutnya yang tidak boleh dilupakan adalah mengajarkan cara berinternet yang sehat. Sebagai media informasi paling dinamis di dunia. Internet menyajikan beragam informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terbatas.
Untuk menghindarkan siswa dari pengaruh media yang cenderung terbuka seluas-luasnya ini. Maka guru dapat memanfaatkanya sebagai media untuk menemukan dan menyalukan hobi para siswanya. Missal, siswa yang tertarik dengan ilmu astronomi, dia dapat mengakses berbagai situs bertemakan antariksa dan perkembangannya. Melalui, www.langitselatan.com.
Langkah terakhir adalah meningkatkan keakraban dalam berkomunikasi antara guru dan siswa. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan teknologi komunikasi oleh siswa, para guru harus proaktif dan peka dalam menangkap perkembangan yang terjadi di lingkungan sekitar siswa. Proaktif dalam memberikan penjelasan tentang fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Membekalinya dengan ilmu supaya dia memahami dan terhindar dari pengaruh negatifnya.
Apapun teknologinya, pada dasarnya mereka adalah alat  yang memiliki peran ganda. Dia dapat memberikan nilai manfaat bagi siapa yang menggunakannya secara bijak. Tetapi ia pun memiliki sisi buruknya pula, bila disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Bola Liar UASBN

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa 4 Mei 2010


Tanggal 4 Mei ini, para siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD/MI) yang kini duduk di kelas 6 akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Biasanya jauh hari sebelumnya pihak sekolah telah melakukan berbaagai persiapan untuk menghadapinya. Mulai dari memberikan les tambahan hingga mengikutsertakan mereka dalam kegiatan try out (TO).
Les tambahan bermanfaat untuk memberikan penguatan-penguatan materi pelajaran yang di-UASBN-kan. Pola pembelajarannya lebih fokus pada latihan dan pembahasan soal yang pernah keluar di UASBN sehingga para siswa akan memperoleh porsi yang lebih banyak. Hal ini sangat berguna dalam mengasah kemampuan mereka dalam memecahkan berbagai soal yang diberikan.
Di sekolah tempat penulis mengajar, para siswa telah diberi kesempatan untuk mengikuti TO sebanyak lima kali. Hal ini dilakukan karena kami menyadari betapa besar manfaat kegiatan ini bagi para siswa, orang tua, dan guru. Manfaat-manfaat tersebut antara lain:
Pertama, untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang di-UASBN_kan. Untuk melakukannya, para guru membutuhkan sebuah alat ukur yang andal dan terpercaya. Ujian TO merupakan salah satu alat ukur strategis yang selalu dipilih. Pilihan ini dapat dimaklumi karena setiap sekolah memiliki keterbatasan dalam menyediakan dan menyusun soal-soal dengan tingkat validitas dan reabilitas soal yang akurat. Selain itu, dibutuhkan waktu, energi, dan dana yang tidak sedikit untuk membuat soal-soal yang berkualitas.
Kedua, memberikan gambaran kepada para siswa tentang karakteristik soal-soal yang biasa di-UASBN-kan. Setiap soal TO telah didesain sedemikian rupa supaya memiliki karakteristik soal relatif sama dengan soal UASBN. Baik dalam hal tingkat kesukaran maupun bentuk soalnya. Dengan mengikuti TO diharapkan para siswa tidak kaget dan cepat menyesuaikan diri saat berhadapan dengan soal-soal UASBN.
Ketiga, memberikan prediksi awal tentang hasil UASBN-nya. Seperti lazimnya setiap prediksi, hasilnya tidak harus selalu sama dengan kenyataannya. Bahkan seringkali mendekati pun tidak. Hall ini terjadi karena terlalu banyak factor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil TO siswa. Tetapi tidak ada salahnya bila para orang tua mengetahui dan memahami hasil TO putra-putrinya. Bahkan harus! Karena bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi dan antisipasi sejak dini perihal pola belajar, pola aktivitas, dan sebagainya yang lebih menunjang prestasi anak-anaknya. Selain itu, para orang tua siswa dapat berkonsultasi dengan guru di sekolah untuk menemukan solusi strategis dalam menyikapi hasil TO siswa.
Keempat, meningkatkan rasa percaya diri siswa. Dengan mengikuti TO, para siswa dapat mengukur sendiri sejauh mana tingkat kemampuan mereka dalam mengerjakan soal-soal. Semakin baik hasil TO mereka, semakin besar pula kepercayaan diri untuk menghadapi UASBN.
Namun adakalanya permasalahan muncul saat mereka menerima hasil TO-nya. Sebagian dari mereka ada yang sedih karena hasil TO-nya selalu pada kisaran angka yang jauh dari harapan atau di bawah standar. Walaupun sudah berkali-kali mengikuti TO, hasilnya masih belum memuaskan. Siswa seperti ini rentan dihinggapi rasa cemas yang berlebihan. Bila kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan menimbulkan stres.
Tentu kita tidak mengharapkan hal seperti ini terjadi. Karena efeknya akan menjadi cukup kompleks. Mulai dari penurunan rasa percaya diri, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan kemampuaan siswa dalam belajar dan menjawab soal.
Untuk membantu para siswa yang hasil TO-nya masih di bawah standar, para guru dapat menanamkan pemahaman motivasi. Sampaikan kepada mereka bahwa soal TO memiliki tingkat kesukaran yang relatif lebih tinggi dibandingkan soal-soal UASBN. Hal ini dilakukan supaya mereka terbiasa menghapi soal-soal yang sulitsebelum menghapi soal-soal yang lebih mudah saat USBN. Beri mereka motivasi supaya tetap semangat dalam menyongsong detikdetik UASBN-nya. Tetap gigih dalam berusaha dan belajar. Nasihati mereka untuk terus berdoa supaya diberi kelancaran dan kemudahan.
Sebagian siswa lainnya merasa bingung setelah memperoleh hasil TO-nya. Karena nilai-nilainya terkesan fluktuatif ekstrem, antara �zona champion� dan �zona degradasi�. Adakala nilainya sangat memuaskan, tetapi mengecewakan di TO berikutnya. Ini merupakan �bola liar� kedua yang dapat melemahkan semangat siswa.
Bila hal ini tidak disikapi dengan baik, dikhawatirkan para siswa akan menganggap tidak perlu lagi belajar. Karena sekeras apa pun usahnya, hasilnya akan tetap sama alias tidak bisa diprediksi. Ada perasaan tidak yakin bahwa usaha belajar mandirinya di rumah mampu memberikan perubahan kea rah yang lebih baik.
Kebingungan siswa seperti ini cukup wajar. Untuk menyikapinya, berikan pemahaman kepada mereka bahwa faktor eksternal seperti kesehatan, kondisi keluarga, pergaulan, dan lain-lain dapat memengaruhi hasil TO-nya. Oleh  sebab itu, libatkan pula para orang tua siswa dalam menciptakan atmosfer lingkungan keluarga yang menunjang prestasi mereka. Sebagian siswa lainnya bersikap percaya diri secara berlebihan karena hasil TO-nya selalu memuaskan. Ini adalah �bola liar� ketiga yang patut kita waspadai. Ada kecenderungan, siswa akan meremekan USBN-nya sehingga mereka tidak merasa perlu lagi belajar. Karena hasil TO-nya menunjukkan bahwa mereka telah siap menghadapi UASBN. Hal seperti ini tentu jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. Karena bisa menjadi �blunder� bagi siswa itu sendiri.
Berikan pengertian kepada mereka bahwa soal UASBN tidak sulit dikerjakan. Tapi akan menyulitkan  mereka bila tidak rajin belajar dan latihan. Karena soal UASBN mengandung jebakan-jebakan yang hanya bisa dihadapi dengan ketekunan dalam belajar. Berikan pengertian kepada para orang tua untuk tidak lengah dalam mengawasi belajar putr-putrinya di Rumah.
Terakhir, semoga semua usaha yang telah dilakukan guru, orang tua, dan siswa kita dapat memberikan hasil yang maksimal saat UASBN.

Guru Bukan Penyaji Buku

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa 13 Oktober 2009


Seorang siswa mengeluh karena merasa kesulitan saat mengikuti pembelajaran di kelas. Hal ini terjadi karena ia tidak memiliki sumber pembelajarannya, yaitu buku.kemudia guru menjelaskan manfaat yang bias diperoleh dari sebuah buku.
Siswa yang kritis ini bertanya,�Bila sebuah buku bisa memberikan begitu banyak manfaat, mengapa kami harus belajar di sekolah?� Pertanyaan polos ini disikapi oleh gurunya dengan senyuman dan dengan sabar ia menjelaskan bahwa belajar di sekolah memiliki banyak manfaat yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku. Memperoleh penjelasan seperti ini, siswa tersebut merasa bingung, kemudian bertanya lagi, �bukankah penjelasan yang selama ini diberikan guru tidak berbeda dengan yang tertulis di buku dalam hal urutan materi, cara menyampaikan, contoh soal, hingga latihan soal. �Mendapat pertanyaan polos dari siswa kritis ini, sang guru hanya bisa terdiam dan menyadari bahwa selama ini ia telah berperan sebagai penyaji buku di hadapan para siswanya.
Keluhan siswa dalam ilustrasi di atas sangatlah wajar ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) hanya membahas seputar topik pada sumber pembelajaran pegangan siswa. Sebagai konsekuensinya, siswa yang memilikinya akan mengalami kesulitan belajar. Selain itu, akan muncul beberapa permasalahan lainnya bila buku pegangan siswa dijadikan pusat kajian dalampembelajaran.
Pertama, topik pembelajaran kurang menyentuh kontekstual sekitar siswa. Kita ketahui bersama bahwa faktor lingkungan yang berinteraksi dengan siswa begitu beragam. Setiap siswa hidup dalam keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan dan status sosial yang tidak sama sehingga setiap siswa akan memiliki keheterogenan dalam hal pengalamannya saat berinteraksi dengan konteks kesehariannya. Hal seperti ini biasanya tidak terekam secara eksplisit dalam sumber pembelajarannya karena konteks permasalahan atau contoh kasus yang dicantumkannya merupakan hal yang telah umum dan sering terjadi. Bagi siswa yang memiliki pengalaman yang sifatnya unikatau berbeda dari biasanya, maka sumber pembelajaran yang dimilikinya tidak bias dijadikan solusi bagi kehidupan sehari-harinya.
Kedua, tidak semua siswa memiliki pengetahuan awal yang sama. Setiap siswa memiliki potensi dan kemampuan yang tidak sama. Halini menuntut seorang guru untuk mampu mengidentifikasikan, menjabarkan dan memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang terjadi pada siswa. Bila pembelajaran di kelas mengikuti pendekatan berdasarkan sumber pembelajaran yang dimiliki siswa, dikhawatirkan akan menurunkan kemampuan mereka dalam memahami materi yang sedang dipelajari.
Ketiga, sudut pandang siswa menjadi sempit. Idealnya, setiap topik pembelajaran yang diberikan kepada siswa seharusnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Halini memerlukandaya improvisasi yang dinamis dari seorang guru. Karena akan mengalihakan fokusdari pembelajaran berbasis buku ke pembelajaran berbasis konsteks.
Keempat, ada kemungkinan alat peraga yang diilustrasikan dalam buku tidak dimiliki oleh sekolah. Ini adalah permasalahan klasik yang biasa terjadi. Permasalahn ini dapat dipecahkan dengan cara membuat alat peraga sederhana dari bahan rumahan. Dan biasanya hal seperti ini tidak dimiliki oleh buku pegangan siswa.
Penting untuk diperhatikan bahwa jadikanlah buku pegangan siswa sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi para siswa, tetapi jangan dijadikan sumber pembelajaran bagi guru saat KBM di kelas. Artinya, pembelajaran di kelas harus bermuara dari guru. Di mana dialah sebagai perencana, yang menjabarkan dan mengimplementasikannya saat pembelajaran di kelas. Untuk menghindari pembelajaran hanya berkisar pada membahas isi buku, ada beberapa tip sederhana yang dapat dilakukan.
Pertama, hindari membawa buku ketika masuk ke kelas. Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang telah disusun harus dijalankan dengan konsisten. Bila ini dilakukan, maka penjelasan yang diperoleh siswa saat KBM akan jauh berbeda dengan urutan, metode penyampaian, dan strategi yang terdapat di buku mereka.
Kedua, buatlah system evaluasi yang paling sesuai dengan karakteristik para siswa. Contoh, bila kita ingin mengevaluasi tingkat pemahaman siswa terhadap suatu topik pembelajaran, maka diperlukan suatu instrumen evaluasi berupa soal. Dan hanya gurulah yang paling tahu tentang jenis soal, jumlah soal, dan tingkat kesukaran soal yang paling cocok bagi siswanya. Karena itu, tidaklah bijak bila mengevaluasi kemampuan siswa seutuhnya diserahkan pada satu buku saja.
Ketiga, gunakanlah lebih dari sumber pembelajaran. Mengidentifikasi kelebihan dan kekuarangan dari sebuah buku adalah tugas seorang guru. Dan kekurangan suatu buku dapat ditutupi oleh kelebihan yang dimiliki oleh buku yang lain. Hal ini akan memudahkan guru dalam memberikan solusi kepada siswa perihal kelemahan suatu buku.
Keempat, buku bukan sumber pemahamn siswa di kelas. Saat siswa di dalam kelas, sumber pemahamannya adalah serangkaian aktivitas pembelajaran yang mereka lakukan seperti diskusi, demonstrasi, tanya-jawab, dan percobaan.

Alat Peraga dari Bahan Rumahan

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Jumat 31 Juli 2009


Mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak bisa dilepaskan dari aktivitas mengamati, meneliti, dan mempelajari berbagai fenomena yang ada di sekitar siswa. Terkadang untuk melakukannya dibutuhkan berbagai alat peraga IPA buatan pabrik yang tidak sedikit merupakan barang impor. Padal menggunakan alat peraga saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas sangat bermanfaat dalam memberikan ilustrasi secara langsung kepada siswa perihal topik pembelajaran yang sedang dipelajarinya. Selain itu, motivasi dan antusiasme siswadalam mengikuti KBM dapat terus ditingkatkan.
 Menggunakan alat peraga pabrikan ternyata menyisakan beberapa permasalahan klasik. Pertama, harga alat peraga relatif mahal. Bagi sekolah dengan alokasi anggaran pengadaanalat peraga yang pas-pasan, apalagi yang tidak memiliki anggaran, hal itu menjadi kendala terbesar dan paling mendasar sehingga tidaklah mengherankan bila banyak sekolah yang masih minim dalam pengadaan alat peraga. Andaikan tersedia, sering kali alat tersebut hanya menjadi barang pajangan saja karena khawatir rusak atau hilang.
Kedua, sulit memperoleh suku cadang. Bila salah satu komponen alat peraga hilang atau rusak, kita hanya bias memperoleh suku cadang tersebut dari pabriknya. Bila pabriknya ada di luar negeri, suku cadang tersebut harus diimpor dari Negara pembuatnya. Hal ini sangat menyulitkan pihak sekolah bila alat peraga tersebut ternyata diperlukan dalam waktu dekat. Tidak jarang para produsen sudah tidak memproduksi komponen (sparepart) tersebut sehingga pihak sekolah terpaksa harus membeli alat peraga yang baru.
Ketiga, kemampuan sekolah dalam pengadaan alat peraga masih sangat terbatas. Penjelasan pada poin pertama dan kedua merupakan alas an mengapa hal ini bias terjadi. Minimnya pengadaan alat peraga berakibat langsung pada pola KBM di kelas yang sering kali hanya bersifat transfer pengetahuan saja. Andaikan tersedia sebuah alat peraga, sering kali siswa hanya diperkenankan mengamati demonstrasi yang dilakukan guru tanpa mengikutsertakan siswa secara langsung. Hal ini ini dilakukan dengan alas an alat peraga yang tersedia terbatas, khawatir rusak atau mahal.
Keempat, alat peraga hanya bisa digunakan saat KBM di kelas saja. Siswa tidak diperkenankan menggunakan alat peraga tersebut di luar KBM. Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama karena pada dasarnya siswa sangat tertarik pada hal-hal unik dan baru.
Tersedianya alat peraga secara lengkap merupakan impian dari setiap guru. Sebab, selain memudahkan saat KBM di kelas juga memberikan banyak manfaat bagi siswa. Tapi apalah daya kalau uang tidak ada. Haruskah kita menyerah? Jawabannya tentu tidak! Masih banyak jalan untuk sampai ke Roma. Solusinya adalah membuat alat peraga dari bahan rumahan. Alat ini dapat dibuat oleh guru bahkan siswa.
Beberapa hal mendasar perlu diperhatikan saat membuat alat peraga dari bahan rumahan. Pertama, alat peraga harus memiliki desain yang sederhanan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan guru saat proses pembuatan, perbaikan, dan pengoperasian alat peraga. Selain itu, desain yang tidak rumit akan memudahkan para siswa dalam meniru dan membuat alat peraga tersebut di luar jam sekolah sehingga para siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilannya melalui alat peraga hasil karya mereka sendiri.
Kedua, dibuat dari bahan dan peralatan yang ada di sekitar lingkungan siswa. Ini bertujuan untuk memudahkan guru dan siswa saat proses pembuatan. Terkadang siswa merasa jenuh dan akhirnya putus asa jika bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan ternyata tidak tersedia di rumahnya. Hal ini akan berakibat langsung pada motivasi dan antusiasme mereka dalam menyelesaikan pembuatan alat peraganya.
Ketiga, terdiri atas bahan-bahan bekas dan murah. Artinya, jangan sampai ketika membuat alat peraga ini para siswa harus mengorbankan perabotan Rumah yang masih dipakai. Usahakan untuk menggunakan barangsudah tidak terpakai lagi. Andaikan harus membeli, cari barang-barang yang harganya murah tapi berkualitas.
Keempat, melibatkan siswa saat proses pembuatan, perbaikan, dan pengoperasian alat peraga. Sebelum proses pembuatan, para siswa ditugasi untuk mengumpulkan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan. Kemudian mereka dibimbing dalam proses pembuatan. Saat mengoperasikan alat peraga, guru tidak hanya menjelaskan cara kerja alat peraga tersebut, tetapi juga menjelaskan fenomena yang diperlihatan alat peraga tersebut.
Pada awalnya membuat alat peraga dari bahan rumahan merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Selain kesibukan yang dimiliki tiap guru, juga faktor minimnya pengalaman dalam membuat alat peraga. Namun saat ini telah tersedia berbagai jenis buku panduan yang berisi cara-cara membuat alat peraga dari barang rumahan. Luar biasanya terkadang untuk membuat alat peraga hanya diperlukan beberapa menit saja dengan langkah-langkah yang sederhana dan mudah dipahami.

Menjawab Pertanyaan dengan Pertanyaan

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Suluh
          Koran Tribun Jabar, Selasa 23 Juni 2009


Seorang siswa bertanya,�Mengapa matahari berwarna merah saat terbit di ufuk timu?� Menanggapi pertanyaan ini atau pertanyaan lainnya, seorang guru akan berusaha meramu sebuah jawaban yang paling mudah dipahami oleh siswanya. Pertanyaan yang dijawab secara akurat, cepat dan singkat seringkali menjadi opsi pertama saat pembelajaran berlangsung.
Menjawab pertanyaan secara akurat akan menghindarkan siswa dari miskonsepsi dalam memahami jawaban. Sebab, keakuratan sebuah jawaban ditentukan bukan oleh content-nya saja, melainkan berkaitan juga dengan metode penyampaian dan isi jawaban yangsesuai dengan tingkat berpikir anak.
Oelh karena itu, ketika siswa sekolah dasar (SD) mengajukan sebuah pertanyaan seperti di atas, kita tidak bias menjawabnya,�Karena panjang gelombang sinar matahari yang sampai ke mata kita lebih besar dibandingkan ketika matahari tepat di atas kepala kita!� Jelas jawaban seperti ini tidak sesuai dengan tingkat berpikir siswa SD karena mereka belum bisa memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak.
Selain tingginya tingkat akurasi sebuah jawaban, kecepatan dalam merespon sebuah pelajaran selalu menjadi pilihan utama saat pelajaran di kelas sehingga secara langsung akan meningkatkan efektivitas pembelajaran secara secara keseluruhan. Semakin cepat solusi diberikan, akan semakin cepat tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran.
Namun, merespon sebuah pertanyaan secara akurat, cepat, dan singkat menyisakan beberapa permasalahan yang harus menjadi perhatian para guru. Pertama, siswa akan terbiasa disuapi oleh jawaban-jawaban instan tanpa ada keinginan dan usaha dari mereka untuk secara mandiri menggali dan menemukan jawabannya. Dengandemikian, pembelajaran di kelas hanya bersifat teacher center, yaitu pembelajaran yang memosisikan guru sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan di kelas.
Kedua, pembelajaran di kelas hanya bersifat transfer pengetahuan. Di kelas, guru berperan sebagai penyampai materi pembelajaran dan siswa berperan sebagai penerima segala jenis pengetahuan yang diterimanya. Tidak heran  bila aktivitas siswa hanya seputar mendengarkan, menuliskan, dan manghafalkan informasi-informasi yang disampaikan kepadanya. Tanpa disertai upaya dalam mengarahkan mereka pada suatu aktivitas ilmiah yang melibatkan kompetensi psikomotor dan kompetensi afektif untuk menemukan sebuah jawaban.
Ketiga, minimnya pemanfaatan media pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Merespon pertanyaan dengan jawaban instant akan mengurangi bahkan akan menghilangkan peran media pembelajaran saat KBM.
Media pembelajaran dapat digunakan untuk mendemonstrasikan sebuah fenomena atau membuktikan kebenaran suatu konsep. Setiap konsep, teori, atau hokum yang berlaku dalam ilmu pengetahuan seyogianya dapat dijelaskan melalui kegiatan yang melibatkan baik audio maupun video. Dan ini hanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia di sekolah.
Keempat, siswa kurang termotivasi untuk mengaktualisasikan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini terjadi karena siswa merasa dapat menyakan pengetahuan apa saja saat belajar di kelas. Dan mereka dapat memperolehnya secara instant sehingga mereka merasa tidak perlu repot-repot mempelajari buku, majalah, koranm atau browsing internet untuk mencapai sebuah pemahaman.
Kelima, siswa menjadi kurang kritis dalam menyikapi pengetahuan yang diberikan kepadanya. Mereka merasa pengetahuan yang dimilikinya sudah final dan mutlak kebenarannya tanpa perlu mempertanyakan kembali ilmu yang telah diberikan gurunya melalui kegiatan ilmiah seperti demonstrasi atau percobaan.
Merespons sebuah pertanyaan tidak harus berupa jawaban langsung, tapi guru dapat menggunakan pertanyaan lainnya yang lebih mendekatkan siswa pada jawaban yang sebenarnya. Seperti seorang siswa yang meminta seekor ikan tapi guru memberinya pancingan. Untuk melakukannya, diperlukan kepiawaian guru menyusun berbagai pertanyaan yang dapat merangsang siswa utuk mau bertanya lagi dan berusaha menemukan jawabannya sendiri. Jadi, setiap pertanyaan kepada siswa harus mampu menggugah rasa ingin tahunya terhadap jawaban.
Merespon pertanyaan dengan pertanyaan memberikan beberapa keuntungan. Pertama, melatih kemandirian siswa memperoleh jawaban dari sebuah pertanyaan. Di sini, siswa dituntut mampu mencari, mengumpulkan, dan menyimpulkan berbagai informasi yang diperolehnya dari membaca berbagai sumber untuk memperoleh sebuah pemahaman. Dengan demikian, pembelajaran di kelas bukan lagi menempatkan siswa sebagai objek yang harus disuapi dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, melainkan kini siswa adalah subjek dalam pembelajaran.
Siswalah yang aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang aktif dalam menjembatani siswa dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang hendak dicapai sehingga pembelajaran tidak berpusat kepada guru, tapi siswalah yang jadi pusat pembelajaran.
Kedua, mengoptimalkan tiga aspek kompetensi fundamental yang dimiliki siswa. Pembelajaran yang berpusat pada siswa menunntut mereka aktif terlibat kegiatan-kegiatan ilmiah di kelas. Pembelajaran di kelas tidak sekadar aktivitas mempertajam pemahaman aspek kognitif, tapi kemampuan aspek psikomotor dan aaektif mereka pun akan lebih tergali. Halini memerlukan kepiawaian dari para guru dalam menyusun rencana program pembelajaran (RPP) yang memungkinkan hal itu terjadi.
Ketiga, meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap ilmu pengetahuan. Merespon pertanyaan dengan pertanyaan akan menyadarkan mereka bahwa dibalik pertanyaan mereka ajukan ternyata ada pertanyaan lainnya yang sama menariknya dengan pertanyaan mereka. Contoh, pertanyaan siswa tentang matahari yang berwarna merah ketika terbit. Guru dapat bertanya kembali,�Bagaimana dengan warna matahari ketika terbenam?� atau, �Bagaimana dengan warna bulan ketika terbit dan terbenam, apakah sama dengan warna matahari saat terbit dan terbenam?� Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selain memotivasi rasa ingin tahu siswa terhadap ilmu pengetahuan juga memperluas konteks pemahaman yang akan dimiliki siswa.
Keempat, mempertajam daya kritis siswa dalam menuntut ilmu pengetahuan di sekolah. Siswa selalumerasa tidak pas dengan setiap jawaban yang diperolehnya. Sebab, mereka sadar di balik setiap jawaban akan menyisakan berbagai pertanyaan lainnya yang lebih besar dan mendasar. Dengan begitu, setiap ilmu pengetahuan yang diperolehnya akan disikapinya dengan kritis dan antusias.
Merespon pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa haruslah dengan pertnayaan yang lebih mendekatkan mereka pada pemahaman yang sesungguhnya. Janganlah mengajukan pertanyaan yang sekiranya akan membingungkan siswa dalam memperoleh jawabannya. Artinya, susunlah sebuah pertanyaan yang sistematis dan efektif dalam mengantarkan mereka pada pencerahan. Hal ini akan menghindarkansiswa dari pertanyaan-pertanyaan yang mengandung polemic yang tidak perlu.