Artikel Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2016

Mengapa kita bisa lupa?



Otak,dengan neuron(jaringan saraf otak) yang berjumlah 100 milyar,memungkinkan kita melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti belajar beberapa bahasa,membangun sebuah ide untuk mengirim orang-orang keluar angkasa.
Meski kapasiatasnya sangat besar,kita bisa ingat di mana menempatkan kunci dan lupa mengapa pergi ke toko bahan makanan,dan kita gagal mengingat kehidupan kita yang bersifat pribadi. apa yang menyebabkan kita lupa?

Jelas ini ada kontradiksi fungsionalitas,mengapa kita lupa sesuatu hal dan ingat dengan hal lain.

Sebuah artikel yang terbit di situs psycologi science yang di tulis oleh Talya sadeh dan rekannya di institut penelitian Rotman mengatakan kita lupa karena data atau informasi sudah expired atau intervensi informasi ?

Pesan di atas pasir

Expired (masa berlakunya sudah habis),ini di karenakan data yang menempatkan ingatan kita perlahan-lahan menghilang,data itu memudar karena lama tidak pernah di akses.

Anda bisa bayangkan seperti tulisan di atas pasir di tepi pantai,setiap gelombang laut yang yang berjalan di atas pasir membuat tulisan jadi samar-samar hingga lama kelamaan hilang sepenuhnya.Pasir mewakili sel otak yang membentuk suatu memori di otak dan gelombang adalah waktu yang terlewati.

intervensi,menurut Sadeh dan rekannya "memori tidak dapat di akses karena intervensi informasi yang di peroleh sebelum dan sesudah pembentukannya menjadi sebuah data di memori otak".


Seperti itulah prosedur mengapa seseorang bisa lupa.Memori Otak ibarat pasir dan waktu ibarat lautan yang secara perlahan lahan mengikis tulisan(informasi) di atas pasir perlahan lahan sedikit demi sedikit hingga tulisan hilang.Yg menyebabkan kita lupa akan sesuatu.Dan kita juga bisa lupa karena intervensi(campur tangan) informasi di dalam memori sebelum dan sesudah menjadi data sebuah ingatan.

Sumber :  scientific american 

Senin, 26 September 2016

Perbedaan antara Kecerdasan dan Rasionalitas



Apakah anda cerdas atau rasional?mungkin pertanyaan ini terdengar berlebihan,tapi beberapa tahun terakhir peneliti memiliki petunjuk bahwa betapa berbedanya kedua istilah kognitif ini sebenarnya.

semuanya dimulai pada tahun 1970an,ketika Daniel Kahneman dan Amos Tversky dua psikolog berpengaruh melakukan serangkaian percobaan yang menunjukan bahwa kita semua bahkan masyarakat yang sangat cerdas cukup rentan terhadap hal hal yg bersifat irasional.Di berbagai skenario,eksperimen ini menunjukan bahwa kebanyakan orang membuat keputusan berdasarkan intiusi daripada alasan.

Dalam satu penelitian,Prof Daniel Kahneman dan Amos Tversky membaca sketsa kepribadian seorang wanita bernama linda,lida berumur 31 tahun,orang yang suka berterus terang dan bersuara lantang,ia mengambil jurusan filsafat,dia sangat peduli dengan isu diskriminasi dan keadilan sosial,dan berperan serta dalam demontrasi antinuklir.Kata mereka kepada subjek yang lebih mungkin:a) Linda adalah seorang teller bank atau,b)Linda adalah seorang teller bank dan aktif dalam pergerakan kaum feminis.Delapan lima puluh persen memilih subjek b,meskipun berbicara logis,a lebih mungkin (semua teller bank feminim adalah teller bank meskipun tidak semua teller bank itu feminim).

Pada masalah linda,kami menjadi mangsa kekeliruan konjungsi(hubungan) keyakinan bahwa kejadian dari dua peristiwa lebih mungkin daripada satu kejadian dari peristiwa.Pada kasus lain,kita mengabaikan informasi tentang prevalensi(kelaziman) menilai peristiwa ketika mereka memungkinkan untuk terjadi.Kita gagal mempertimbangkan alternatif penjelasan lain.Kita menilai bukti dengan cara yang konsisten serta keyakinan sebelum melakukan,dan seterusnya.Manusia,tampaknya scara mendasar irasional.

Tapi mulai pada akhir 1990-an,para peneliti mengerutkan dahi melihat kenyataan yang ada,sebagai psikolog Stanovich keith mengobservasi orang lain,bahkan data Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukan bahwa bberapa orang sangat rasional,dengan kata lain ada perbedaan individu rasionalitas,Walau kita semua menghadapi tantangan kognitif untuk menjadi rasional.Jadi siapa orang-orang yang lbih masuk akal?mungkin,orang-orang yang lebih cerdas,benarkah?

jawabannya salah,dari serangkaian penelitian,Prof Stanovich dan rekan-rekannya telah memiliki contoh-contoh kuat dari penilaian lengkap tes terhadap subjek (biasanya beberapa ratus penilaian) seperti masalah linda di atas,demikian juga tes I.Q.Menemukan hal utama bahwa irasioanalitas atau apa yang di sebut prof Stanovich "disrasitionalia" berkorelasi relatif lemah dengan I.Q.Seseorang dengan I.Q tinggi kemungkinan akan menderita disirationalia sbagaimana seseorang dengan I.Q rendah.Dalam sebuah penelitian pada tahun 2008,prof stanovich dan rekan-rekannya memberikan subjek-subjek tentang masalah linda dan menemukan bahwa seseorang dengan I.Q tinggi,adalah,jika ada,lebih rentan hubungannya terhadap kesalahan yang bersifat irasional.

Kini juga ada bukti bahwa rasionalitas tidak seperti kecerdasan yang dapat di tingkatkan melalui pelatihan.Dalam penlitian yang di terbitkan tahun lalu dalam kebijakan wawasan dari ilmu perilaku dan otak(Policy insights from the behavioral and brain sciences).



Selasa, 06 September 2016

Pentingnya Ranah Kejiwaan Dimensi Kognitif



Mungkin sebagian orang tidak mengetahui apa uang disebut dimensi kognitif dalam ranah kejiwaan manusia tapi yg berkecimpung di dunia pendidikan tentu tidak asing dengan istilah ini.Langsung saja,dimensi kognitif adalah aspek ranah kejiwaan yang di sebut akal dalam istilah biologis berpusat di otak manusia yang berfungsi untuk berpikir baik buruknya atau benar tidaknya.Menurut Muhibbin Syah dalam bukunya yg berjudul Psikologi Pendidikan dimensi kognitif adalah
pusat kontrol tubuh manusia baik jasmani dan rohani,jadi jika dimensi kognitif rusak maka manusia tidak lebih sedikit dama dengan hewan dan tidak terkontrol bahkan tubuh bisa kehilangan fungsi baik jasmani maupun rohani fatalnya lagi tifak bisa membedakan manabyg baik dan buruk serta benar dan salah.

Bukan hanya disiplin ilmu psikologi yang beranggapan bahwa dimensi kognitif sangat penting untuk memanusiakan manusia dalam aspek pendidikan bahkan agama khususnya agama Islam,ada sekitar 30 an ayat alquran yang tersurat yang berhubungan dengan akal yang merupakan alat untuk berpikir (dimensi kognitif) belum lagi yg tersirat itu banyak sekali.Disini saya akan memberikan sedikit contoh ayat alquran yang mengajak manusia untuk berpikir :

Allah SWT berfirman:

....Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir."
(QS. Al-A'raf: Ayat 176)

Allah SWT berfirman:

....Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."
(QS. Ar-Ra'd: Ayat 3)

Allah SWT berfirman:

"Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.""
(QS. Fatir: Ayat 37)


Allah SWT berfirman:

"Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 179)

Demikianlah contoh ayat alquran agar manusia bisa berpikir tentang baik buruknya dan benar salahnya suatu perbuatan beda dengan sebagian disiplin ilmu psikologi yg yg cendrung memunculkan motivasi intrinsik (motivasi dari dalam) untuk berbuat baik dengan cara persuasif,Islam lebih cendrung menggunakan cara punnisment (hukuman) dan reward(hadiah) dengan mengajak manusia untuk berpikir bahwa jika dia melakukan dosa akan di siksa dan jika berbuat kebajikan akan mendapat pahala dan siksanya tidak main-main dan reward yg di tawarkan alquran pun sangat menggiurkan.Untuk melihat tingkat keberhasilannya terbukti alquran telah merubah banyak manusia kearah yg lebih baik,misal pecandu narkoba seperti almarhum ustadz jeffri al bukhari yg menjadi guru banyak muslim di indonesia itu yg muncul di media belum lagi yg tidak terexspose di media.Misalnya di mekkah yg menggunakan sistem punnisment dan reward yg bersumber dari kitab alquran,di mekkah sangat aman sedikit sekali pelanggaran-pelanggaran yg terjadi di mekkah itu di karenakan hukum yg ditegakan di sana tidak main-main.Sebenarnya seluruh negara yang ada di dunia menggunakan sistem ini tapi tidak setegas Alquran oleh sebab itu pelaku kejahatan mrlakukan krjahatan tanpa pikir panjang.Alquran membuat pelaku kejahatan berpikir panjang dengan pertimbangan-pertimbangan yg meredam hawa nafsu kejahatannya dengan rasa takut hukuman yg sangat perih sekali.

Dimensi kognitif yg berhasil di arahkan kearah yg benar tidak hanya memproduksi kecerdasan kognitif tapi juga dimensi afektif dan psikimotor yg cerdas pada diri seorang manusia begitu yg di pahami oleh Muhibbin Syah di dalam bukunya psikologi pendidikan.Oleh karena itu dengan berkembangnya dimensi afektif akan mempengaruhi dimensi afektif dan psikomotor begitu juga sebaliknya.Menurut Muhibbin Syah ada 2 kecakapan kognitif yg harus dikembangkan seseorang yaitu

1).strategi memahami materi

2).strategi meyakini dan mengaplikasikan suatu materi

Dengan memahami materi dan menghubungkannya dengan realitas kehidupannya akan menstimulus rasa keingintahuan seseorang karena manusia cendrung menyukai hal yang baru yang bisabia pahami maka dari itu dalam proses belajar dan mengajar hendaknya seorang guru tidak menggunakan bahasavyg sulit atau kalimat yg sulit di mengerti harus direncanakan dengan bahasa yang seserdehana mungkin agar peserta didik dpt memahami,jika mereka paham secara otomatis akan menstimulus keingintahuan mereka untuk memahami materi yg baru lagi.

Setelah mereka memahami suatu ilmu yg benar dengan cara yang benar pula secara otomatis mereka akan meyakini pesan2 suatu materi ajar dan mereka dengan mudah mengaplikasikan pada kehisupan mereka.

wallahualam

referensi :Muhibbin Syah,Psikologi Pendidikan....

Senin, 07 Maret 2016

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Manusia


Anak manusia sejak di lahirkan berkembang terus sampai ia mati.Perkembangan anak manusia ini meliputi perkembangan fisik badaniah dan rohaniah,berlangsung secara teratur dan terarah menuju kedewasaannya.Tugas pendidikan membimbing anak agar perkembangannya berlangsung secara wajar dan optimal.Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah :
a. Faktor Keturunan (Heriditas)
    Anak memiliki warisan sifat-sifat bawaaan yang berasal dari kedua orang tuanya,merupakan potensi tertentu sudah terbentuk dan sukar di ubah.Menurut H.C. Witherington ,dalam Abu Ahmadi (2001) ,heriditas adalah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu dari satu generasi ke generasi yang lain dengan perantaraan sel benih.Pada dasarnya yang di turunkan adalah struktur tubuh,jadi apa yang dirunkan orang tua kepada anaknya berdasar kepada perpaduan gen-gen,yang pada umumnya hanya mencakup sifat dan ciri struktur individu yang diturunkan itu sangat kecil menyangkut ciri dan sifat orang tua yang di peroleh dari lingkungan atau hasil belajar dari lingkungannya.

Beberapa ciri atau sifat orang tua yang kemungkinan dapat di turunkan misalnya; warna kulit,intelegensi,bentuk fisik seperti bentuk mata,hidung,suara berhubungan dengan selaput suara,dan lin sebagainya yang berkaitan dengan struktur fisik individu.

b. Faktor Lingkungan (Environment)
    Lingkunga di sekitar manusia dapat di golong menjadi dua jenis lingkungan,yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik.Lingkungan abiotik adalah lingkungan mahluk ta bernyawa,seperti batu,air dan hujan,tanah,musim yang di sebabkan iklim karena peredaran matahari,dan sebagainya.Itu semua dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

Lingkungan biotik adalah lingkungan mahluk hidup bernyawa terdiri dari tiga jenis yaitu ; a) lingkungan nabati atau lingkungan tumbuh-tumbuhan,b) lingkungan hewani atau kehidupan satwa di sekitar manusia,c) lingkungan manusia,yaitu kehidupan manusia termasuk kehidupan sosial,budaya dan spiritual.

c. Faktor Diri
    Guru harus memahami faktor diri yang merupakan faktor kejiwaan kehidupan seorang anak,faktor-faktor ini dapat berupa perasaan ,dorongan untuk berbuat,intelegensi,sikap,kemampuan berkomunikasi dan sebagainya,ini akan berpengaruh dalam tindakan anak sehari-hari.

Beberapa ciri perkembangan kejiwaan anak di kemukakan oleh Abu Ahmadi (2001:220-221),sebagai berikut ;

1). Ciri perkembangan kejiwaan anak TK 
  1. Kemampuan melayani kebutuhan fisik secara sederhana telah mulai berubah.
  2. Mulai mengenal kehidupan sosial dan pola sosial yang berlaku dan di lakukannya
  3. Menyadari dirinya berbeda dengan anak yang lain yang empunyai keingan dan perasaan tertentu.
  4. Masih tergantung epada orang lain,dan memerlukan perlindungan orang lain.
  5. Belum dapat membedakan antara yang nyata dan khayal.


2). Ciri perkembangan kejiwaan anak SD
  1. Pertumbuhan pisik dan motorik maju pesat.
  2. Kehidupan sosial di perkaya dengan kemampuan berkerja sama dan bersaing dalam kehidupan kelompok.
  3. Mempunyai kemampuan memahami sebab akibat.
  4. Dalam kegiatan-kegiatannya belum membedakan jenis kelamin dan dasar yang digunakan adalah kemampuan dan pengalaman yang sama.


3). Ciri-ciri Perkembangan kejiwaaan anak SMP
      a. Mulai mampu memahami hal-hal yang abstrak(khayal).
      b. Mampu berkomunikasi pikiran dengan orang lain
      c. Tumbuh minat memahami diri sendir dan orang lain.
      d. Tumbuh pengertian tentang konsep norma dan sosial.
      e. Mampu membuat keputusan sendiri.


Sumber ; PEADAGOGIK,Drs.Uyoh Sadulloh M.Pd., dkk.

Inisiatif dan Daya Kreasi Manusia


Inisiatif dan daya kreasi manusia merupakan manifestasi dari hakikat manusia sebagai mahluk yang bebas.Dengan modal kebebasan, manusia mempengaruhi hidupnya,menghadapi dan menghidupi dunianya.Inisiatif merupakan penggerak bagi eksplorasinya (petualangan) di dalam dunianya.
Daya kreasi merupakan penggugah hatinya untuk bereksperimen (mencoba) dengan imajinasinya.Maka manusia menghidupi dunianya tidak dengan jalan melarutkan diri di dalamnya,melainkan dengan menghadapinya sebagai tugas yang ahrus di tempuh dan di laksanakannya.Pelaksanaannya tidak dengan menjiplak dari orang lain,tidak dengan jalan menenggelamkan diridalam kebiasaan yang telah di biasakannya oleh orang tuanya,tidak denga cara pasif menyesuaikan diri kepada lingkungannya.Melainkan dengan tandas menyatakan kehadirannya,dengan cara menyatakan ucapannya,sesuai dengan pendapat pandangannya sendiri,sesuai selera dan gejolak hatinya.

Manusia bebas menghadapi lingkungannya,namun ini tidak bearti bahwa dengan kebebasannya itu dia dapat berbuat sekehendak hati.Ada garis pembimbing yang menuntun dan memberikan pembatas pada perbuatannya:aturan yang harus di taatinya;ada norma yang harus di jadian patokan dan pegangan hidupnya.

Walaupun norma dan nilai yang menggariskan kehidupannya mungkin semula berasal dari luar telah di jadikan miliknya sendiri,maka garis dan batas itu tida dirasaannya sebagai kekangan hidup,malahan menjadi dorongan hidupnya.Jadi kebebasan terjalin dan berada dibawah naungan payung nilai.

Inisiatif dan daya kreasi yang merupakan manifestasi dari kebebasan dirinya dan merupakan saluran imajinasinya menjadi jelas arah dan sasarannya dalam realita kehidupannya yang harus di gelutinya.Dan pembinaan inisiatif dan daya kreasinya ini hanya dapat terlaksana melalui bimbingan dan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan hidup manusia.


Sumber : PEADAGOGIK,Drs.Uyoh Sadulloh,M.Pd., dkk.

Minggu, 06 Maret 2016

Mengapa Manusia Harus Di Didik


Ada beberapa asumsi yang memungkinan manusia harus di didik dan memperoleh pendidikan yaitu :
a. Manusia di lahirkan dalam keadaan tidak berdaya.Manusia begitu lahir ke dunia,membutuhkan uluran tangan orang lain (ibu dan ayah) untuk dapat melangsungkan hidup dan kehidupannya.

b. Manusia tidak langsung dewasa.Untuk sampai kepada kedewasaan yang merukan tujuan pendidikan dalam arti khusus,memerlukan waktu yang lama. Pada manusia primitif mungkin proses pencapaian kedewasaan  tersebut akan lebih pendek di bandingkan mausia modern sekarang ini.Pada manusia primitif cukup dengan mencapa kedewasaan secara konvensional,yaitu ktika seseorang sudah memiliki keterampilan untuk hidup,khususnya untuk hidup berkeluarga,seperti dapat berburu,dapat bercocok tanam,mengenal nilai-nilai atau norma-norma hidup bermasyarakat,sudah dapat di katakan dewasa.Dilihat dari segi usia,misalnya usia 12-15 tahun,pada masyarakat primitif sudah dapat melangsungkan hidup berkeluarga.Pada masyarakat modern tuntutan kedewasaan lebih kompleks,sesuai dengan makin kompleksnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan juga makin kompleksnya sistem nilai.

Untuk mengarungi kehidupan dewasa ,manusia perlu di persiapkan,lebih-lebih pada masyarakat modern.bekal tersebut dapat di peroleh dari pendidikan, dimana orang tua dan generasi tua akan mewariskan pengetahuan,nilai-nilai,serta keterampilannya kepada anak-anaknya atau pada generasi berikutnya.

c. Manusia pada hakikatnya adalah mahlik sosial.Ia tidak akan menjadi manusia seandainya tidak hidup bersama manusia lainnya.Lain halnya dengan hewan ,dimanapun hewan di besarkan ,tetap akan memiliki perilaku hewan.Seekor kucing yang dibesarkan dalam lingkungan anjing akan tetap memiliki perilaku kucing,tidak akan berperilaku anjing,karena setiap jenis hewan sudah di lengkapi dengan insting tertentu yang pasti dan seragam ,yang berbeda antara jenis hewan yang satu dengan jenis hewan yang lainnya.

Manusia merupakan mahluk yang dapat di didik,memungkinkan untuk memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang harus didik,karena manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya,lahir tidak langsung dewasa.Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamamnya.


Sumber : Peadagogik,Drs.Uyoh Sadulloh, M.Pd., dkk.

Selasa, 01 Maret 2016

Pentingnya Perkembangan Kognitif Bagi Proses Belajar Siswa


Ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif.Ranah kejiwaan yang berkedudukan  pada otak ini,dalam perspektif psikologi ognitif adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya,yakni ranah afektif dan psikomotor.
Tidak seperti organ-organ lainnya,organ otak sebagai markas fungsi kognitif bukan hanya menjadi penggerak aktifitas akal pikiran,melainkan jugaa menara kontrol aktivitas perasaan dan perbuatan. Sebagai menara kontrol otak selalu bekerja siang dan malam.Sekali kita kehilangan fungsi kognitif karena kerusakan berat pada otak, martabat kita hanya berbeda sedikit dari hewan.Demikian juga orang yang menyalahgunakan kelebihan kemampuan untuk hal-hal yang merugikan kelompok lain apalagi menghancurkan kehidupan mereka martabat orang tersbut tak lebih seperti hewan.Begitulah pentingnya pengajar untuk mengembangan ranah kognitif siswa agar perilaku siswa tidak menyamai martabat hewan.

Menurut temuan para ahli otak adalah sumber dan menara kontrol bagi seluruh ranah-ranah psikologi manusia. Otak tidak hanya berpikir dengan kesadaran,tetapi juga berpikir dengan ketidaksadaran.Pemikiran tidak sadar sering terjadi kepada kita.Ketika tidur misalnya kita bermimpi dan mimpi adalah sebuah bentuk berpikir dengan gambar-gambar tanpa kita sadari.Kebiasaan kita bangun subuh dan siap mengerjakan rencana-rencana harian,juga bentuk aktivitas otak yang dalam psikologi kognitif di sebut berpikir yang tidak disadari oleh kita sendiri.

Tanpa ranah kognitif ,sulit di bayangkan seorang siswa dapat berpikir.Selanjutnya tanpa kemampuan berpikir mustahil siswa tersebut dapat memahami dan meyaini faedah-faedah materi yang di pelajari.Tanpa berpikir juga sulit bagi siswa untuk menangkap pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran yang ia pelajari

sumber : Psikologi Pendidikan;MUHIBBIN SYA;edisi revisi.

Selasa, 26 Mei 2015

Bisa menggambarkan/membayangkan sesuatu yg di lakukan tubuh kita akan membantu anda melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Srini pillay : seorang asisten klinik professor dari  Harvard mengatakan :

Penggambaran dan tindakan memiliki hubungan yang sangat kuat,melibatkan korteks motorik( bagian otak yang berfungsi : mengendalikan gerakan tubuh sadar,Stimulasi elektrik pada titik tertentu akan menghasilkan gerakan pada bagian tubuh tertentu,
Jika bagian tersebut cedera, maka seseorang bisa lumpuh.Gerak tubuh manusia dikendalikan korteks motor secara terbalik. Gerak kanan tubuh dikendalikan korteks motorik kiri, dan sebaliknya).Berpikir tentang bagaimana tubuh kita melakukan sesuatu dapat mengaktifkan korteks motorik dengan cepat.

Membayangkan tubuh kita saat melakukan sesuatu memungkinkan kita untuk mengingat dan melatih mental bergerak seperti yg di harapkan dengan otomatis,singkatnya menghasilkan reflek yang lebih baik dari biasanya.Sebenarnya,menggambarkan pergerakan mengubah beberapa susunan jaringan otak.Menciptakan hubungan yang lebih kuat diantara bagian- bagian otak yang berbeda.Ini terangsang melibatkan bagian-bagian otak dalam latihan utk bergerak,seperti misalnya menempatkan putamen(liat gambar judul diatas utk mengetahui letak putamen) dalam otak bagian depan. Putamen (disingkat Pu) adalah sebuah struktur di tengah dari otak besar, di mana bersama nucleus caudatus akan membentuk striatum.
p.Putamen merupakan bagian dari ganglia basalis yang membentuk bagian terluar dari nucleus lentiformis. Putamen dimungkinkan berperan pada integrasi sensorimotorik dan kontrol motorik.

Pada dasarnya otak dan tubuh kita untuk sebuah tindakan agar supaya kita dapat bergerak dengan efektif.Bahkan penggambaran tindakan oleh otak kita dapat membantu kita untuk mengambil sikap apa yang harus kita lakukan dan apa yang bisa kita selaraskan dengan apa yang terjadi di sekitar kita.Otak kita belajar bergerak dengan rutin memungkinkan tindakan kita akan otomatis lebih reflektif yang tindakannya lebih tepat sasaran cepat dan benar selaras dengan apa yg terjadi di sekitar kita.


Sumber : http://www.scientificamerican.com/article/can-visualizing-your-body-doing-something-help-you-learn-to-do-it-better/




Sabtu, 26 April 2014

URGENSI PENDIDIKAN DARI SEGI PEDAGOGIK

Pentingnya pendidikan bagi manusia adalah karena Manusia Memerlukan Bantuan beda dengan hewan,misalkan anak ayam yang begitu lahir mereka bisa berjalan dan mencari makan sendiri sedangkan anak manusia begitu lahir
hanya bisa menangis,kalo lapar nangis disuapin pula dan kalau jalan harus di gendong.Anak manusia begitu lahir butuh pertolongan ibunya ketika ingin memenuhi kebutuhan fisik bahkan kebutuhan psikologis.Karena itu sudah menjadi keharusan manusia memerlukan pendidikan dari orang dewasa.Masih banyak contoh-contoh lain bahwa manusia mutlak memerlukan bantuan dalam mendidik dirinya sendiri.

Beda dengan anak ayam yang begitu lahir bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya karena hewan di kemudikan oleh insting yang di bawanya sejak lahir.

Berikut pendapat Drs.Uyoh Sadulloh,dkk mengenai insting :

Apakah insting itu?Insting adalah suatu kemampua psiko-fisis (jasmani-rohani) yang diturunkan atau merupakan pembawaan.Kemampuan itu menentukan pemiliknya untuk mengamati dan memerhatikan obyek-obyek dari jenis tertentu,untuk menghayati suatu keterangan emosional yang mempunyai kualitas khusus saat mengamati obyek yang demikian,dan berperilaku terhadap obyek itu dengan cara yang khusus,atau paling sedikit,menghayati suatu dorongan untuk berperilaku.

Pada manusia juga terdapat insting,seperti bayi yang tanpa belajar mempunyai insting ketika menghisap puting susu ibunya,dan ia menangis saat kelaparan dan banyak lagi contoh lainnya.Beda dengan hewan manusia tidak secara keseluruhan bergantung dengan insting banyak segi-segi kehidupan yang memerlukan bimbingan dengan belajar untuk memperjuaangkannya demi kelangsungan hidupnya.

Berikut pendapat  Drs.Uyoh Sadulloh,dkk mengenai pentingnya Pendidikan untuk manusia :

Tanpa usaha belajar dari pihak generasi muda dan usaha pendidikan dari pihak generasi dewasa,manusia tidak dapat mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya,sehingga dapat mencapai tingkatan yang lebih bermutu dan lebih mulia.

Jadi pendidikan bukan hanya semata-mata mentransfer ilmu pengetahuan melainkan juga mewujudkan potensi anak didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang di dapatnya.

Pendidikan diperlukan untuk mengurangi peranan insting dalam proses kehidupan manusia,jika insting lebih mendominasi seseorang dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan peranan pikiran dan budi manusia maka manusia akan berperilaku primitf layaknya hewan yang sepenuhnya di kendalikan insting.Disinilah peran pendidikan untuk meningkatkan mutu manusi ketaraf yang lebih mulia sebagai manusia yang berbudi pekerti luhur.

Ketika dewasa manusia harus mengerti pentingnya memahami bahwa manusia tidak hanya hidup sebagai mahluk individu yang memiliki kebebasan dan haknya sebagai individu tapi juga harus juga menghormati hak dan kebebasan pribadi atau individu-individu yang lain tanpa melewati zona-zona atau batas-batas norma yang berlaku dan menghindari sikap berlebih-lebihan dalam berperilaku.Bebas bukan berarti melakukan sesuatu semaunya tapi juga harus terikat dengan pengetahuan tentang positif atau negatifnya perbuatan agar tidak merugikan pribadi atau individu-individu lain sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.

Ada hubungan yang erat antara taraf kehidupan ekonomis dan taraf kualitas dan pemerataan pendidikan suatu negara yang sedang berkembang,pendidikan merupakan salah satu prioritas sektor pembangunan.Untuk itu perlu di bangun suatu sistem pendidikan yang memadai dengan barisan guru bemutu yang sangat dibutuhkan ( Drs.Uyoh Sadulloh,dkk).

Sumber dan Referensi : Drs.Uyoh Sadulloh,M.Pd.,dkk,PEDAGOGIK (ilmu mendidik).penerbit Alfabeta Bandung 2010


Jumat, 25 April 2014

Pentingnya Psikologi dalam Proses Mengajar dan Belajar

Sudah merupakan suatu kewajiban bagi setiap pendidik bekerja dengan profesional dan kompeten melaksanakan profesinya sesuai dengan keadaan peserta didik.Sangat penting mempelajari Ilmu Psikologi khususnya Psikologi pendidikan untuk para pendidik untuk memahami
perilaku anak didik yang berbeda dengan maksud merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan potensi anak didik.

Beda umur beda pemahaman dan beda karakter beda cara mendidiknya,pemahaman ini harus sudah menjadi dasar penyusunan rencana pembelajaran tanpa mengurangi peranan didaktik dan metodik.Para ahli psikologi pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak(kembar sekalipun)tak pernah memiliki respon yang sama persis terhadap situasi mengajar-belajar di sekolah.Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan,kematangan jasmani,intelegensi dan keterampilan motorik(Muhibin Syah : 2010).Mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda serta cara memecahkan masalah yang berbeda-beda.

Dilingkungan yang berbeda-beda anak didik berinteraksi dengan pribadi-pribadi yang berbeda-beda termasuk lingkungan sekolah dengan siswa atau guru,di mana terjadi proses psikologis dalam interaksinya.Di sinilah guru perlu memahami dan mengerti agar tidak salah dalam memperlakukan anak didik sehingga sikron antara cara dengan perkembangan psikologis anak didik.Tidak menutup kemungkinan pentingnya ilmu psikologi bukan hanya untuk para guru tetapi seluruh elemen masyarakat karena masyarakat juga berperan dalam perkembangan potensi anak didik.

Ada beberapa hal yang bisa di petik dari psikologi pendidikan menurut Muhibin Syah :

1. Proses Perkembangan Siswa
          Dikalangan para guru dan orang tua siswa terkadang timbul pertanyaan apakah perbedaan usia antara seorang siswa dengan siswanya membuat perbedaan subtansial (bersifat inti) dalam hal merespon pengajaran.Pertanyaan ini perlu dicari jawabannya melalui pemahaman tahapan-tahapan perkembangan siswa dan ciri-ciri khas yang mengiri tahapan perkembangan tersebut.

Tahapan-tahapan perkembanga yang perlu di pahami sebagai bahan pertimbangan pokok dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar adalah tahapan-tahapan yang berhubungan  dengan perkembangan ranah cipta para siswa yang menjalani proses belajar mengajar dan pembelajaran materi tertentu,serta dalam mengikuti proses belajar-mengajar yang di kelola guru kelas.

2. Cara Belajar Siswa
           Di manapun proses belajar berlangsung alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu siswa agar belajar sebaik-baiknya.Oleh karena itu,adalah hal esensial (pokok,dasar) bagi para guru untuk memahami sepenuhnya cara dan tahapan belajar yang terjadi pada siswa.

Pengetahuan anda yang pokok mengenal proses belajar tersebut meliputi::
  1. Signifikansi (arti penting) belajar
  2. teori-teori belajar
  3. Hubungan belajar dengan teori
  4. Fase-fase yang di lalui dalam peristiwa belajar
3. Cara Menghubungkan Mengajar dengan Belajar
            Tugas utama guru sebagai pendidik sebagaimana yang di tetapkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional kita adalah mengajar,secara singkat mengajar adalah kegiatan menyampaikan pengetahuan dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam pengetahua tersebut kepada siswa.Agar kegiatan mengajar ini diterima oleh para siswa,guru perlu berusaha membangkitkan gairah  dan minat belajar mereka.Kebangkitan gairah dan minat belajar para siswa akan mempermudah kegiatan mengajar dan kegiatan belajar.

              Oleh,karena itu,sebagai calon guru atau guru yang sedang bertugas,anda sangat di harapkan menerti benar seluk-beluk mengajar baik dalam arti individual(seperti remedial) maupun dalam arti klasikal.Dalam hal ini anda dituntut pula untuk memahami model-model mengajar,metode-metode mengajar dan strategi-strategi mengajar.Kemudian metode dan strategi ini anda terapkan secara cermat dalam proses belaja-mengajar yang anda kelola.

4. Pengambilan Keputusan untuk Pengelolaan PMB
               Dalam mengelola sebuah proses belajar-mengajar (PMB),seorang guru dituntut untuk menjadi figur central yang kuat dan berwibawa namun tetap bersahabat.Sebelum mengelola sebuah proses belajar mengajar,anda perlu terlebih dahulu merencanakan satuan bahan atau materi dan tujuan-tujuan yang hendak di capai.sesuai perencanaan materi dan tujuannya penyajiannya,anda perlu menetapkan kiat yang tepat untuk menyampaikan materi tersebut kepada siswa dalam situasi belajar mengajar yang efisien.

                Agar sebuah pengelolaan proses belajar mengajar mencapai sukses,seorang guru hendaknya memandang dirinya sendiri sebagai profesional yang efektif.Lalu pandangan positif ini di ejawantahkan dalam bentuk upaya-upaya pengambilan keputusan mengenai materi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan para siswa dan penegasan tujuan-tujuan penyajian tersebut secara ekplisit(tersurat dan gamblang).Keputusan yang di ambil selanjutnya adalah penetapan pendekatan,metode dan strategi mengajar yang menurut tujuan psikologis sesuai dengan jenis dan sifat materi,tugas yang akan di berikan kepada siswa dan situasi belajar mengar seperti yang di harapkan.


sumber dan referensi : Muhibbin Syah,Psikologi Pendidikan,2010,Pt.Remaja Rosdakarya

Minggu, 09 Mei 2010

Interaksi Sosial



Sebagai makhluk individual manusia mempunyai dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, sedangkan sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan interaksi. Dengan demikian maka akan terjadilah interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.

Pengertian interaksi sosial
Interaksi sosial adalah hubungan antar individu satu dengan individu lainnya. Individu satu dapat mempengaruhi yang lain begitu juga sebaliknya. (definisi secara psikologi sosial). Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki juga perilaku spesifik.

Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat melebur diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.

Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia
a. Faktor imitasi, imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain.
Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan (1966:36). Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalu orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya. Contoh dari imitasi adalah bahasa; anak belajar berbahasa melalui peniruan terhadap orang lain selain itu mode-mode yang melanda masyarakat berkembang karena faktor imitasi.

b. Faktor sugesti, adalah pengaruh psikis yang diterima tanpa adanya kritik
Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat. Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.

Imitasi dan sugesti peranannya dalam interaksi hampir sama besarnya, namun berbeda. Dalam imitasi, orang yang mengimitasi keadaannya aktif sebaliknya dengan yang diimitasi dalam keadaan pasif. Sedangkan dalam sugesti orang dengan sengaja dan aktif memberikan pandangan, norma dan sebagainya agar orang lain menerima.
Terjadinya proses sugesti mengikuti dalil sebagai berikut :
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila daya kritisnya dihambat. Orang yang kemampuan berpikirnya kurang atau kurang kritis akan mudah dipengaruhi. Daya kritis tersebut akan terhambat bila orang terkena stimulus yang bersifat emosional. Atau dalam keadaan fisik dan jiwa yang lelah. Misal orang yang telah berjam-jam rapat, ia sudah lelah baik fisik maupun psikologis , adanya keenganan untuk berfikir secara berat, sehingga biasanya dalam keadaan yang demikian orang akan mudah menerima pendapat, pandangan dari pihak lain, atau dengan kata lain orang yang bersangkutan akan mudah menerima sugesti dari pihak lain.
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila kemampuan berpikirnya terpecah belah (dissosiasi). Orang mengalami dissosiasi bila orang itu dalam keadaan kebingungan sehingga mudah menerima pengaruh orang lain. Secara psikologis orang yang dalam keadaan bingung berusaha mencari penyelesaian karena jiwanya tidak tenteram sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak lain.
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila materinya mendapat dukungan orang banyak (sugesti mayoritas). Dalam dalil ini orang akan mudah menrima pandangan, nporma, pendapat dan sebagainya bila hal tersebut telah mendapatkan dukungan mayoritas.
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila yang memberikan materi adalah orang yang memiliki otoritas. Walau materi yang diberikan sama tetapi kalau yang memberikan berbeda maka akan terdapat pula perbedaan dalam penerimaan. Orang yang memiliki otoritas akan cenderung mudah diterima karena tingkat kepercayaan yang tinggi
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila pada orang yang bersangkutan telah ada pendapat yang mendahului yang searah. Bila dalam diri orang ada pendapat yang telah mendahului dan searah dengan yang disugestikan maka umumnya orang akan mudah menerima pendapat tersebut

c. Faktor identifikasii, adalah dorongan untuk menjadi identik (sama ) dengan orang lain. . Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis. Contoh anak-anak belajar norma-norma sosial dari hasil identifikasinya terhadap orang tua mereka. Di dalam identifikasi anak akan mengabil oper sikap-sikap ataupun norma-norma dari orang tuanya yang dijadikan tempat identifikasi itu. Dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainyadari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari.

d. Faktor Simpati, merupakan perasaan tertarik kepada orang lain. Oleh karena merupakan perasaan maka timbulnya atas dasar emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik pada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Lawan dari simpati adalah antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. Sedangkan empati adalah kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain (feeling with another person).

Teori-teori hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
a. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
b. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
c. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).

d. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.

SIKAP (Attitude)


Pengertian
Perilaku manusia juga dilatar belakangi oleh sikap. Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai �organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya�. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal.

Sikap memiliki beberapa pengertian dan definisi sebagai berikut :
� Sikap adalah predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan (Kimmball Young (1945)
� Sikap adalah keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungan dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu (Sherif & sherif 1956)
� Sikap adalah predidposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam tatacara tertentu dan berkenaan dengan objek tertentu (Fishbein & Ajzen 1975)
� Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan.

Komponen sikap
Sikap merupakan hubungan dari berbagai komponen yang terdiri atas :
a. Komponen kognitif : yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan dan informasi yang dimilki seseorang tentang objek sikapnya atau komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan atau bagaimana mempersepsi objek
b. Komponen afektif : komponen yang bersifat evaluatif yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang
c. Komponen konatif : kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya atau komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek

Ciri-ciri sikap
Sikap memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir
Berarti manusia dilahirkan tidak membawa sikap tertentu pada suatu objek. Oleh karenanya maka sikap terbentuk selama perkembangan individu yang bersangkutan. Karena terbentuk selama perkembangan maka sikap dapat berubah, dapat dibentuk dan dipelajari. Namun kecenderungannya sikap bersifat tetap.
b. Sikap selalu berhubungan dengan objek
Sikap terbentuk karena hubungan dengan objek-objek tertentu, melalui persepsi terhadap objek tersebut.
c. Sikap dapat tertuju pada satu objek dan sekumpulan objek
Bila seseorang memiliki sikap negatif pada satu orang maaka ia akan menunjukkan sikap yang negatif pada kelompok orang tersebut.
d. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Jika sikap sudah menjadi nilai dalam kehidupan seseorang maka akan berlangsung lama bertahan, tetapi jika sikap belum mendalam dalam diri seseorang maka sikap relaatif dapat berubah.
e. Sikap mengandung perasaan atau motivasi
Sikap terhaadap sesuaatu akan diikuti oleh perasaan tertentu baik positif maupun negatif. Sikap juga mengandung motivasi atau daya dorong untuk berperilaku.

Sumber: www.edwias.com


Minggu, 18 April 2010

Self-Disclosure (Pengungkapan Diri)

Dalam suatu interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak, bagaimana mereka ingin orang lain mengetahui tentang mereka akan ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya. Pengungkapan diri (self-disclosure) adalah proses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagi perasaan dan informasi dengan orang lain (Wrightsman, 1987).

Menurut Morton (dalam Sears, dkk., 1989) pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi di dalam pengungkapan diri ini bersifat deskriptif atau evaluatif. Deskniptif artinya individu melukiskan berbagai fakta mengenai diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh pendengar seperti, jenis pekerjaan, alamat dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya seperti tipe orang yang disukai atau hal-hal yang tidak disukai atau dibenci.

Pengungkapan diri ini dapat berupa berbagai topik seperti informasi perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi dan ide yang sesuai dan terdapat di dalam diri orang yang bersangkutan. Kedalaman dan pengungkapan diri seseorang tergantung pada situasi dan orang yang diajak untuk berinteraksi. Jika orang yang berinteraksi dengan menyenangkan dan membuat merasa aman serta dapat membangkitkan semangat maka kemungkinan bagi idividu untuk lebih membuka diri amatlah besar. Sebaliknya pada beberapa orang tertentu yang dapat saja menutup diri karena merasa kurang percaya (Devito, 1992).

Dalam proses pengungkapan diri nampaknya individu-individu yang terlibat memiliki kecenderungan mengikuti norma resiprok (timbal balik). Bila seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi, maka akan cenderung memberikan reaksi yang sepadan. Pada umumnya mengharapkan orang lain memperlakukan sama seperti memperlakukan mereka (Raven & Rubin, 1983).

�Seseorang yang mengungkapkan informasi pribadi yang lebih akrab daripada yang kita lakukan akan membuat kita merasa terancam dan kita akan lebih senang mengakhiri hubungan semacam ini. Bila sebaliknya kita yang mengungkapkan diri terlalu akrab dibandingkan orang lain, kita akan merasa bodoh dan tidak aman� (Sears, dkk., 1988).

Kebudayaan juga memiliki pengaruh dalam pengungkapan diri seseorang. Tiap-tiap bangsa dengan corak budaya masing-masing memberikan batas tertentu sampai sejauh mana individu pantas atau tidak pantas mengungkapkan diri. Kurt Lewin (dalam Raven & Rubin, 1983) dari hasil peneitiannya menemukan bahwa orang-orang Amerika nampaknya lebih mudah terbuka daripada orang-orang Jerman, tetapi keterbukaan ini hanya terbatas pada hal-hal permukaan saja dan sangat enggan untuk membuka rahasia yang menyangkut pribadi mereka. Di lain pihak, orang Jerman pada awalnya lebih sulit untuk mengungkapkan diri meskipun untuk hal-hal yang bersifat permukaan, namun jika sudah menaruh kepercayaan, maka mereka tidak enggan untuk membuka rahasia pribadi mereka yang paling dalam.

Tingkatan-tingkatan pengungkapan diri
Dalam proses hubungan interpersonal terdapat tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam pengungkapan diri. Menurut Powell (dalam Supratikna, 1995) tingkatan-tingkatan pengungkapan diri dalam komunikasi yaitu:

a. Basa-basi merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau dangkal, walaupun terdapat keterbukaan diantara individu, terapi tidak terjadi hubungan antar pribadi. Masing-masing individu berkomuniikasi basa-basi sekedar kesopanan.

b. Membicarakan orang lain yang diungkapkan dalam komunikasi hanyalah tentang orang lain atau hal-hal yang diluar dirinya. Walaupun pada tingkat ini isi komunikasi lebih mendalam tetapi pada tingkat ini individu tidak mengungkapkan diri.

c. Menyatakan gagasan atau pendapat sudah mulai dijalin hubungan yang erat. Individu mulai mengungkapkan dirinya kepada individu lain.

d. Perasaan: setiap individu dapat memiliki gagasan atau pendapat yang sama tetapi perasaan atau emosi yang menyertai gagasan atau pendapat setiap individu dapat berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan pertemuan antar pribadi yang sungguh-sungguh, haruslah didasarkan atas hubungan yang jujur, terbuka dan menyarankan perasaan-perasaan yang mendalam.

e. Hubungan puncak: pengungkapan diri telah dilakukan secara mendalam, individu yang menjalin hubungan antar pribadi dapat menghayati perasaan yang dialami individu lainnya. Segala persahabatan yang mendalam dan sejati haruslah berdasarkan pada pengungkapan diri dan kejujuran yang mutlak.

Sementara Alman dan Taylor mengemukakan suatu model perkembangan hubungan dengan pengungkapan diri sebagai media utamanya. Proses untuk mencapai keakraban hubungan antar pribadi disebut dengan istilah penetrasi sosial . Penetrasi sosial ini terjadi dalam dua dimensi utama yaitu keluasan dan kedalaman. Dimensi keluasan yaitu dimana seseorang dapat berkomunikasi dengan siapa saja baik orang asing atau dengan teman dekat. Sedangkan dimensi kedalaman dimana seseorang berkomunikasi dengan orang dekat, yang diawali dan perkembangan hubungan yang dangkal sampai hubungan yang sangat akrab, atau mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi tentang dirinya. Pada umumnya ketika berhubungan dengan orang asing pengungkapan diri sedikit mendalam dan rentang sempit (topik pembicaraan sedikit). Sedangkan perkenalan biasa, pengungkapan diri lebih mendalam dan rentang lebih luas. Sementara hubungan dengan teman dekat ditandai adanya pengungkapan diri yang mendalam dan rentangnya terluas (topik pembicaraan semakin banyak) (Sears, dkk. , 1999).

Fungsi pengungkapan diri.
Menurut Derlega dan Grzelak (dalam Sears, dkk., 1988) ada lima fungsi pengungkapan diri, yaitu :

a. Ekspresi (expression)
Dalam kehidupan ini kadang-kadang manusia mengalami suatu kekecewaan atau kekesalan, baik itu yang menyangkut pekerjaan ataupun yang lainnya. Untuk membuang semua kekesalan ini biasanya akan merasa senang bila bercerita pada seorang teman yang sudah dipercaya. Dengan pengungkapan diri semacam ini manusia mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kita.

b. Penjernihan diri (self-clarification)
Dengan saling berbagi rasa serta menceritakan perasaan dan masalah yang sedang dihadapi kepada orang lain, manusia berharap agar dapat memperoleh penjelasan dan pemahaman orang lain akan masalah yang dihadapi sehingga pikiran akan menjadi lebih jernih dan dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.

c. Keabsahan sosial (sosial validation)
Setelah selesai membicarakan masalah yang sedang dihadapi, biasanya pendengar akan memberikan tanggapan mengenai permasalahan tersebut Sehingga dengan demikian, akan mendapatkan suatu informasi yang bermanfaat tentang kebenaran akan pandangan kita. Kita dapat memperoleh dukungan atau sebaliknya.

d. Kendali sosial (social control)
Seseorang dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang keadaan dirinya yang dimaksudkan untuk mengadakan kontrol sosial, misalnya orang akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik tentang dirinya.

e. Perkembangan hubungan (relationship development).
Saling berbagi rasa dan informasi tentang diri kita kepada orang lain serta saling mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam usaha merintis suatu hubungan sehingga akan semakin meningkatkan derajat keakraban.

Pedoman dalam Pengungkapan Diri
Pengungkapan diri kadang-kadang menimbulkan bahaya, seperti resiko adanya penolakan atau dicemooh orang lain, bahkan dapat menimbulkan kerugian material. Untuk itu, kita harus mempelajari secara cermat konsekuensi-konsekuensinya sebelum memutuskan untuk melakukan pengungkapan diri. Menurut Devito (1992) hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengungkapan diri adalah sebagai berikut:

a. Motivasi melakukan pengungkapan diri
Pengungkapan diri haruslah didorong oleh rasa berkepentingan terhadap hubungan dengan orang lain dan diri sendiri. Sebab pengungkapan diri tidak hanya bersangkutan dengan diri kita saja tetapi juga bersangkutan dengan orang lain. Kadang-kadang keterbukaan yang kita ungkapkan dapat saja melukai perasaan orang lain.

b. Kesesuaian dalam pengungkapan diri.
Dalam melakukan pengungkapan diri haruslah disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Pengungkapan diri haruslah dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Misalnya bila kita ingin mengungkapkan sesuatu pada orang lain maka kita haruslah bisa melihat apakah waktu dan tempatnya sudah tepat.

c. Timbal balik dan orang lain.
Selama melakukan pengungkapan diri, berikan lawan bicara kesempatan untuk melakukan pengungkapan dirinya sendiri. Jika lawan bicara kita tidak melakukan pengungkapan diri juga, maka ada kemungkinan bahwa orang, tersebut tidak menyukai keterbukaan yang kita lakukan.

Sumber: www.edwias.com

Gaya Presentasi diri Self-Monitoring (Pemantauan Diri)

Setiap orang akan berbeda dalam cara mempresentasikan diri mereka. Beberapa orang lebih menyadari tentang kesan publik mereka, beberapa orang mungkin lebih menggunakan persentasi diri yang straregik, sementara yang lain lebih menyukai pembenaran diri (verifikasi diri). Menurut Mark Snyder (1987), perbedaan ini berkaitan dengan suatu ciri sifat kepribadian yang disebut dengan self-monitoring yaitu kecenderungan mengatur perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutaan situasi sosial. Dengan demikian, self-monitoring adalah kecenderungan untuk merubah perilaku dalam merespon terhadap presentasi diri yang dipusatkan pada situasi (Brehm & Kassin, 1993). Atau menurut Worchel, dkk. (2000), self-monitoring adalah menyesuaikan perilaku terhadap norma-norma situasional dan harapan-harapan dari orang lain. Sementara Brigham (1991) menyatakan self-monitoring merupakan proses dimana individu mengadakan pemantauan (memonitor) terhadap pengelolaan kesan yang telah dilakukannya.

Individu yang memiliki se!f-monitoring yang tinggi (high self-monitors) menitikberatkan pada apa yang layak secara sosial dan menaruh perhatian pada bagaimana orang berperilaku dalam setting sosial. Mereka menggunakan informasi ini sebagai pedoman tingkah laku mereka. Perilaku mereka lebih ditentukan oleh kecocokan dengan situasi daripada sikap dan perasaan mereka yang sebenarnya. Mereka cakap dalam merasakan keinginan dan harapan orang lain, terampil atau ahli dalam mempresentasikan beberapa perilaku dalam situasi-situasi berbeda dan dapat merubah cara-cara presentasi diri atau memodifikasi perilaku-perilaku untuk menyesuaikan dengan harapan orang lain. High self-monitors digambarkan sebagai orang yang memiliki �pragmauic self�. Mereka dapat disebut juga sebagai pengelola kesan yang lihai (�skilled impression managers).

Sebaliknya individu yang termasuk rendah dalam pemantauan diri (low self-monitors) cenderung lebih menaruh perhatian pada perasaan mereka sendiri dan kurang menaruh perhatian pada isyarat-isyarat situasi yang dapat menunjukkan apakah perilaku mereka sudah layak. Dalam suatu alat tes yang dinamakan �self-monitoring Scale� yang disusun oleh Mark Snyder dapat diketahui bahwa ternyata orang mempunyai variasi secara luas dalam kesiapan dan kemampuan untuk memantau diri mereka sendiri.

Berdasar hasil penelitian, orang yang mendapat skore tinggi pada skala self-monitoring, akan mendapat keberuntungan dalam situasi sosial, Orang-orang akan menganggap mereka sebagai orang yang ramah dan relaks (Lippa, 1978), tidak pemalu dan lebih siap untuk mengambil inisiatif dalam berbagai situasi (Pilkonis, 1977). Tetapi kemungkinan mereka menjadi kurang dapat dipercaya dan dinilai dangkal (Gergen, 1977). Sehingga diasumsikan bahwa mereka yang berada pada tingkat self-monitoring yang moderat (sedang/di-tengah-tengah) adalah yang secara sosial ideal. Sebab hal ini akan membuat mereka bisa berfungsi secara efektif dalam mempresentasikan diri mereka, tanpa menjadi �bunglon sosial�.

Hasil-hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa karena high self-monitors mempersepsi diri sendiri sebagai orang yang berhasil dalam memberi kesan pada orang lain, maka mereka cenderung untuk memiliki harga diri yang lebih tinggi (Sharp & Getz, 1996). Mereka juga trampil secara sosial dalam menguji hipotesis tentang kepribadian orang (Dardenne & Leyens, 1995). Mereka juga lebih banyak mengingar informasi tentang orang-orang lain atau tindakan-tindakan orang lain. High self-monitors lebih menempatkan pada daya tarik fisik daripada kualitas pribadi ketika mereka memiliki pasangan romantis. Sedangkan low self-monitors lebih menekankan kecocokan dalam kepribadian dan minat daripada mencocokkan dengan daya tarik fisik dalam memilih pasangan (Glick. DeMorest, & Hotze, 1988). Akhirnya studi dalam organisasi menunjukkan bahwa individu yang tinggi self-monitoringnya lebih baik daripada yang rendah self-monitoringnya dalam bekerja antar departemen atau antar seksi yang menuntut fleksibilitas dan terbuka dengan keinginan dan harapan orang lain.

Sumber: www.edwias.com

Senin, 05 April 2010

Implikasi Teori Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran

Menurut Piaget, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya, yaitu bagaimana anak secara aktif mengkontruksi pengentahuannya. Pengetahuan datang dari tindakan . menurut teori Piaget pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis. Berikut ini adalah implikasi teori Piaget dalam pembelajaran:

1. Memaklumi akan adanya perbedaan invidual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Ditambah cara berfikir anak kurang logis dibanding dengan orang dewasa, maka guru harus mengerti cara berfikir anak, bukan sebaliknya anak yang beradaptasi dengan guru.

2. Pendidikan disini bertujuan untuk mengembangkan pemikiran anak, artinya ketika anak-anak mencoba memecahkan masalah, penalaran merekalah yang lebih penting daripada jawabannya. Oleh sebab itu guru penting sekali agar tidak menghukum anak-anak untuk jawaban yang salah, tetapi sebaliknya menanyakan bagaimana anak itu memberi jawaban yang salah, dan diberi pengertian tentang kebenarannya atau mengambil langkah-langkah yang tepat untuk untuk menanggulanginya.

3. Anak belajar paling baik dengan menemukan (discovery). Artinya di sini adalah agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung efektif, guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi mereka memberi tugas khusus yang dirancang untuk membimbing para siswa menemukan dan menyelesaikan masalah sendiri.

Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

PENGERTIAN
Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Istilah �Cognitive� berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

PRINSIP DASAR TEORI PIAGET
� Jean Piaget (seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980) dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis.
� Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. contoh: manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi.

3 Aspek Inteligensi
Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda:

1. Struktur Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur & organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam �mental framework�-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller, 1993).

2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif: 1) seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses. 2) lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural.

Piaget tidak melihat struktur kognitif sebagai mekanisme biologis lahiriah. Dia tidak percaya bahwa anak-anak memasuki dunia dengan �piranti dasar� untuk memahami realita. Anak-anak secara perlahan & bertahap membangun cara pandang mereka sendiri terhadap realita. Pembentukan struktur kognitif mulai pada awal kehidupan segera setelah bayi mulai memiliki pengalaman dengan lingkungan. Tapi bukankah seorang bayi yg baru lahir belum memiliki pengalaman apapun terhadap lingkungan? Piaget percaya bahwa seorang bayi yg tidak berpengalaman penuh memiliki struktur yg sudah terbentuk yg memprogramkan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan, ini yg disebut struktur fisik, seperti sistem syaraf & otak manusia serta organ2 sensorik spesifik. Dan refleks-refleks yg disebut sebagai �automatic behavioral reactions�. Bayi melatih struktur-struktur ini dalam interaksi dengan lingkungan & memulainya dengan segera untuk mengembangkan struktur kognitif.

2. Isi Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat �isi� kurang penting dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi adalah �apa� dari inteligensi, sedangkan �bagaimana� & �mengapa� ditentukan oleh kognitif atau intelektual.

3. Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi. Organisasi: cenderung uuntuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas. Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara:

a. organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.
b. organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.


TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

1. Periode sensorimotor (usia 0�2 tahun)
2. Periode praoperasional (usia 2�7 tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia 7�11 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

1. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
a. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2. Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

3. Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

Pengurutan�kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi�kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering�anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility�anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi�memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme�kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

4. Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
� Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
� Universal (tidak terkait budaya)
� Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
� Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
� Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
� Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif

KRITIK TERHADAP TEORI PIAGET
Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.

1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget.
2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.
3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.

Diringkas Dari Berbagai Sumber:
Wikipedia
VALMBAND
Latar Belakang Jean Piaget
marthachristianti.wordpress.com