Artikel Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2016

Belajar di dalam Perspektif Islam



BISSMILLAH.....


Kata belajar tentu tidak asing bagi semua orang karena hampir 100% manusia di bumi ini pernah mencicipi bangku sekolah yang secara umum di dalamnya terdapat kegiatan mencari ilmu pengetahuan yang di sebut kegiatan belajar.Ada tiga dimensi keterampilan yang ingin di kembangkan oleh proses kegiatan belajar ini yaitu pertama keterampilan kognitif dengan tujuan mewujudkan manusia yang memiliki


kematangan dalam berpikir,kedua keterampilan afektif dengan tujuan mewujudkan manusia yang memiliki akhlak yang baik,ketiga keterampilan psikomotor dengan tujuan mewujudkan manusia yang miliki skill yang hebat.


Berbeda dari teori yang belajar dari disiplin ilmu psikologi yang mengobservasi kegiatan belajar seseorang dengan anggapan bahwa proses belajar merupakan hasil dari pengalaman pribadi baik dari luar ataupun dari dalam diri manusia itu sendiri merupakan hasil usaha manusia yang bersangkutan tanpa ada campur tangan atau pertolongan Allah SWT.Dalam islam belajar itu memerlukan aspek dari segi usaha dan doa dalam arti belajar ini tidak akan memproduksi seseorang yang memiliki ketiga dimensi keterampilan yang telah di jelaskan di atas di sebut benar dan baik di mata Allah jika salah satu aspek tidak dilakukan.Misalkan sesorang manusia yang dalam proses suksesnya dalam hal ilmu pengetahuan karena hasil usahanya sendiri dan tidak mau berdoa Allah menamakannya orang yang melampaui batas,.Perhatikan dengan seksama ayat di bawah :


Allah berfirman :


Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.Sungguh,Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(alaraf ayat 55)


Seolah-olah Allah berkata bahwa berdoalah(berdoa di sini tidak di jelaskan berdoa untuk apa,jelas ini bersifat umum dan dalam konteks belajar yang dianjurkan berdoa agar Allah memberikan ilmu dan pertolongan untuk mencari ilmu atau dalam proses belajar) dan meminta pertolongan kepada Allah.Sungguh jika kamu tidak berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah kamu adalah  termasuk orang yang melampaui batas

.

Dan Allah secara tersirat dalam ayat-ayatnya juga tidak menganjurkan manusia hanya berdoa saja tanpa melakukan usaha,Allah juga secara tersirat melegitimasi usaha yang di lakukan seseorang dari aspek manapun tanpa tidak mengindahkan do'a.Perhatikan ayat di bawah :


Allah berfirman :


Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.Sungguh,Pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendenganrkan (arrum ayat 23)


Usaha di sini tidak di jelaskan secara spesifik, yang tertulis adalah usaha untuk mencari karunia Allah dan jelas karunia Allah itu banyak termasuk dalam hal belajar kalau di pandang dari konteks belajar seolah-olah Allah berkata : "Tanda-tanda kebesarannya ialan membiarkanmu atau menyetujuimu untuk berusaha mencari sebagian ilmu pengtahuan (karunia-Nya) ".


Dan jika dua ayat ini di gabungkan seolah-olah Allah berkata bahwa : "Berusahalah dengan tidak meningggalkan doa dan jika kamu meninggalkan doa niscaya kamu termasuk orang yang melampui batas".Dan dalam kontks belajar yaitu berdoa memohon pertolongan kepada Allah dan berusaha untuk mematangkan pikiran,mewujudkan akhlak yang baik dan mengembangkan skill.



Dalam hal belajar Islam lebih menitik beratkan untuk mengembangkan kematangan kognitif dan afektif,banyak sekali ayat yang membahas kedua masalah ini dibanding dimensi psikomotor.Simak ayat berikut :


a.Dimensi kognitif dan afektif


....Maka ceritakan kisah-kisah itu agar mereka berpikir.(alaraf ayat 176)


Kisah-kisah yang di ceritakan Alquran adalah kisah-kisah tentang benar tidaknya sesuatu dan baik buruknya sesuatu dan ini mengarah kepada dimensi afektif seseorang dengan maksud agar sesorang mempertimbangkan atau berpikir untuk berbuat sesuatu dengan akal mereka dan berpikir ini mengarah kepada kematangan kognitif.


Ada juga ayat yang menganjurkan untuk belajar berpikir tentang disiplin ilmu astronomi dengan maksud agar terwujud kematangan kognitif yang berhubungan dengan ilmu astronomi.Contoh ayat :


Allah berfirman :


Dan dia menghamparkan bumi dan mnjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya dan padanya dia jadikan buah-buahan berpasang pasangan;dia mnutupkan malam kepada siang.Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang berpikir.(arrad ayat 3 )


b.Dimensi Psikomotor


Dimensi ini sangat sedikit jumlahnya yang tertulis di alquran,mungikn karna dasar dari kematangan manusia adalah kdua di mensi di atas yaitu afektif dan kognitif.contoh ayat :


Allah berfirman :


Dan kami ajarkan kepada Daud cara membuat baju besi untukmu,guna melindungimu dalam peperanganmu.Apakah kamu brsyukur? (alanbiya ayat 80)


Yang di ajarkan Allah dalam ayat di atas kpada Nabi Daud adalah keterampilam psikomotor dalam konteks ketrampilan membuat baju besi,dan ayat ini bisa  di perluas dengan berusaha dan memohon kepada Allah agar di beri pelajaran keterampilan misalnnya dalam bidang otomotif,olahraga dan sebagainya.


Begitulah cara islam memandang belajar dari ketiga dimensi kejiwaan yang lebih menitik beratkan di dalam aspek kognitif dan afektif karena untuk mempelajari keterampilam psikomotor alatnya telah tersedia di dunia ini.


wallahualam....



Senin, 21 Maret 2016

Ciri Khas Peserta Didik


Peserta didik berstatus sebagai subjek didik.Pandangan modern cendrung menyebutnya demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom ,yang ingin di akui keberadaannya.Selaku pribadi yang meiliki ciri khas dan otonomi,ia ingin mengembangkan diri secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang di jumpai sepanjang hidupnya.


Berikut ciri khas peserta didik yang harus di ketahui pendidik :

1. Individu yng meiliki potensi fisik dan psikis yang khas.
    Anak sejak lahir telah memiliki potensi-potensi yang ingin di kembangkan dan di aktualisasikan.Untuk mengaktualisasikannya membutuhkan pembimbing.

2. Individu yang sedang berkembang
    Yang dimaksud perkembangan di sini ialah perubahan yang terjadi pada peserta didik secara wajar,baik di tujuan kepada diri sendiri maupun kearah penyesuaian dengan lingkungannya.

Sejak manusia lahir bahkan sejak masih berada di dalam kandungan ia berada pada proses perkembangan.Proses perkembangan ini melalui rangkaian yang bertingkat-tingkat.Tiap tingkat mempunyai sifat-sifat khusus.Tiap fase berbeda dari fase lainnya.Anak yang berada pada fase bayi berbeda dengan fase remaja,dewasa dan orangtua.Perbedaan ini meliputi perbedaan minat,kebutuhan,kegemaran,emosi,intelegensi dan sebagainya.Perbedaan tersebut harus di ketahui olen pendidik pada masing-masing tingkat perkembangan tersebut.Atas dasar itu pendidik dapat mengatur kondisi dan strategi yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

3. Individu yang yang mebutuhkkan bimbingan secara manusiawi
     Dalam proses perkembangannya peserta didik membutuhkan bantuan dan bimbingan.Bayi yang baru lahir secara badani dan hayati tidak terlepas dari ibunya,seharusnya setelah ia tumbuh berkembang menjadi dewasa ia sudah dapat hidup sendiri.Tapi kenyataannya untuk kebutuhan perkembangannya sendiri,ia masing menggantungkan diri sepenuhnya kepada orang dewasa.

4. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri
     Dalam perkembangan peserta didik ia mempunyai kemampuan untuk berkembang ke arah kedewasaan.Pada diri anak ada kecendrungan untuk memerdekakan diri.Hal ini menimbulkan kewajiwab pendidik dan orang tua untuk setapak demi setapak memberi kebebasan dan pada akhirnya mengundurkan diri.Jadi pendidik tidak boleh memaksakan diri agar pesert didik berbuat menurut pola yang di kehendaki pendidik.Ini di maksud agar peserta didik memperoleh kesempatan untuk memerdekan diri dan bertanggung jawab sesuai dengan kepribadiannya sendiri.Pada saat ini si anak telah dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri.

Sumber;PENGANTAR PENDIDIKAN ,Prof.Dr.Umar Tirtarahardja dan Drs.S.L.La Sulo

Rabu, 16 Maret 2016

Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia


Manusia di lahirkan sudak memiliki dimensi hakikat manusia tetapi masih dalam wujud potensi,belum teraktualisasi menjadi wujud kenyataan atau "aktualisasi".Dari kondisi potensi menjadi wujud aktualisasi terdapat rentangan proses yang menundang pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya.
Ada dua kemungkinan hasil dari pengembangan dimensi hakikat manusia :
1. Pengembangan utuh
2. Pengembangan tidak utuh

1. Pengembangan utuh
    Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia di tentukan oleh dua faktor;yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang di sediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.

Pengembangan yang utuh dapat di lihat dari berbagai segi ; yaitu wujud dimensi dan arahnya.

a. Dari wujud dimensinya
    Keutuhan terjadi antara aspek jasmani dan rohani,antara dimensi keindividualan,kesosialan,kesusilaan,dan keberagamaan, antara aspek kognitif,afektif dan psikomotor.Pengembangan aspek jasmaniah dan rohaniah di katakan utuh jika keduanya mendapatkan pelayanan yang seimbang.

Pengembangan dimensi keindividualan,kesosialan,kesusilaan dan keberagamaan dikatakan utuh jika semua dimensi tersebut mendapatkan layanan yang baik,tidak emngabaikan salah satunya.

Pengembangan domain kognitif,afektif dan psikomotor dikatakan utuh jika ketiganya mendapat layanan yang berimbang.

b. Dari arah Pengembangan
    Keutuhan pengembangan di mensi hakikat manusia dapat di arahkan kepada pengembangan dimensi keindividualan,kesosialan,kesusilaan dan keberagamaan secara terpadu.

Pengembangan domain kognitif,afektif dan psikomotor di samping keselarasannya juga perlu di perhatikan arahnya.Yang di maksud adalah arah pengembangan diri dari jenjang rendah kejenjang yang lebih tinggi.

2. Pengembangan yang tidak utuh
    Perkembangan yang tidak utuh akan terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk di tangani.Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantap karena tidak berimbang.


Sumber ; PENGANTAR PENDIDIKAN, Prof.Dr.Umar Tirtarahardja

Sabtu, 05 Maret 2016

Hakikat Pembelajaran di Kelas Rendah(Sekolah Dasar)


Anak kelas rendah di sd adalah anak yang berada pada rentangan usia dini.Masa usia dini ini adalah masa yang pendek tetapi merupakan masa yang penting bagi kehidupan seseorang.Oleh karena itu,pada masa ini seluruh potensi anak harus di dorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Batasan pendidian anak usia dini sebagaimana di ungkapkan oleh Bredecamp (1997) pendidikan anak usia dini ,mencakup beberapa program yang melayani anak dari lahir sampai dengan delapan tahun yang di rancang untuk mengembangkan tingkat intelektual,sosial,emosi,bahasa dan fisik anak.

Karakteristik perkembangan anak kelas satu,dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan,mereka telang mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya.Perkembangan anak pada kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukan keakuannya tentang jenis kelaminnya ,telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya,mempunyai sahabat,telah mampu berbagi dan mandiri.

Perembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengexspresikan reaksi terhadap orang lain,Telah dapat mengontrol emosi,sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah.Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD di tunjukan dengan kemampuannya mengelompokan objek,berminat terhadap angka dan tulisan,meningkatnya perbendaharaan kata,senang berbicara,memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman tentang ruang dan waktu.

Kecendrungan belajar anak usia SD :

1. Konkrit
    Konkret bermakna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni yang dapat dilihat,di dengar,di baui,diraba dan di otak-atik,dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.

2. Integratif
    Pada usia SD anak memandang sesuatu yang di pelajari sebagai sesuatu keutuhan,mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu,hal ini melukiskan cara berpikir yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian-bagian.

3. Hierarkis
    Pada tahapan usia sekolah dasar ,cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks.

Pembelajaran di SD perlu memperhatikan landasan psikologis yang mendasari perilaku anak.Sangat di butuhkan pemahaman yang mendalam tentang kajian psikologis dan teori belajar agar dapat mengaplikasikannya dalam berbagai peristiwa belajar serta mampu memecahkan permasalahan anak yang mengalami kesulitan belajar.


Sumber : Strategi Pembelajaran,Dra.Masitoh, M.Pd. dan Laksmi Dewi, M.Pd 

Kamis, 03 Maret 2016

Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran


Prinsip belajar dan pembelajaran merupakan ketentuan atau hukum yang harus di jadikan pegangan di dalam pelaksanaan egiatan pembelajaran.
Sebagai suatu hukum ,prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar.Dibawah ini adalah prinsip belajar dan pembelajaran :

1. Motivasi
    Motivasi berfungsi sebagai penggerak motor aktivitas.Bila motornya tidak ada maka aktivitas takkan terjadi.Apabila motornya lemah maka aktivitasnya pun lemah.

Motivasi berkaitan erat dengan tujuan yang hendak di capai oleh individu yang belajar.Bila seorang yang belajar menyadari bahwa tujuan bermanfaat dan baik baginya,maka motivasi akan muncul dengan kuat.Motivasi tersebut di sebut motivasi intrinsik atau internal.Jadi munculnya motivasi intrinsik dalam belajar,karena siswa ingin menguasai kemampuan yang terkandung dalam tujuan pembelajaran.

2. Perhatian
   Perhatian erat sekali kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat di pisahkan.Perhatian adalah pemusatan energi psikis terhadap suatu objek.Makin terpusat perhatian dalam belajar maka pembelajaran akan semakin baik dan hasilnya akan semakin baik pula.

Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat di akibatkan dua hal :
a. Orang itu merasa bahwa objek itu memiliki kaitan dengan dirinya,umpamanya dengan kebutuhan,cita-cita,bakat,dan minat.

b. Objek itu sendiri di pandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain,atau yang lain dari biasanya,lain daripada yang umumnya muncul.

3. Aktivitas
    Belajar adalah sebuah aktivitas,yaitu aktivitas mental dan emosional.Peristiwa belajar di dalamnya selalu mengandung aktivitas walau kadarnya berbeda-beda.Guru di tuntut memiliki kemampuan untuk membelajarkan siswa secara aktif baik fisik,mental/intelektual dan emosional.Kadar aktivitas yang tinggi membuat siswa memiliki hasil belajar yang baik dan lebih bermakna.Siswa sebaiknya memperoleh pengalaman langsung melalui interaksi eksplorasi dan melakukan investigasi (penyelidikan) dengan lingkungan belajar baik lingkungan sosial,pisik maupun lingkungan alam.

4. Umpan Balik
     Siswa perlu mengetahui apakah yang ia lakukan di dalam proses pembelajaran atau tugas-tugas yag ia kerjakan selama atau sesudah proses pembelajaran tersebut sudah benar atau belum.

Bila ternyata salah,pada bagian mana yang salah dan mengapa bisa terjadi salah dan bagaimana seharusnya dia melakukan kegiatan belajar tersebut.

Untuk itu siswa perlu sekali memperoleh umpan balik dengan segera,supaya ia tidak terlanjur berbuat kesalahan yang dapat menimbulkan kegagalan belajar.Umpan balik juga dapat di berikan tidak hanya pada proses pembelajaran berlangsung,tetapi juga terhadap pekerjaan yang siswa lakukan di rumah hasil tugas tersebut di beri umpan balik.Sehingga siswa dapat mengetahui pekerjaannya benar atau salah.

5. Perbedaan Individual
     Belajar tidak dapat di wakilkan kepada orang lain.Tidak belajar,bearti tidak memperoleh kemampuan.Belajar dalam arti proses mental dan emosional terjadi secara individual.Kadar aktivitas siswa di kelas sangat beragam.

Disamping itu,siswa yang belajar sebagai pribadi tersendiri,yang memiliki perbedaan dari siswa lain.Perbedaan itu mungkin dalam hal pengalaman,minat,bakat,kebiasaan belajar,kecerdasan,tipe belajar dan sebagainya.

Oleh karena itu guru harus menggunaan metode yang bervariasi dalam belajar,sebab mungkin siswa yang ita ajari memiliki tipe belajr yang berbeda-beda.Siswa yang memiliki tipe belajar auditif akan lebih mudah belajar memlalui pendengaran,siswa memiliki tipe belajar motorik akan memiliki tipe belajar visual dan akan lebih mudah belajar melalui penglihatan.

Sumber : Strategi Pembelajaran,Dra.Masitoh,M.Pd. dan Laksmi Dewi M.Pd.
     

Konsep Belajar


Belajar adalah satu kata yang sangat familiar di lingkungan masyarakat terlebih lagi di ruang lingkup pendidikan serta tidak dapat di pisahkan dari masyarakat.
Konsep belajar sendiri telah banyak di bahas oleh para ahli pendidikan.Menurut Gagne (1984),Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.Definisi belajar dijelaskan oleh Driscroll (2000) yaitu perubahan terus menerus dalam kinerja atau potensi kinerja manusia.Oemar Hamalik berpendapat ,belajar adalah modifikasi atau memperteguh kalakuan melalui pengalaman.

Dari pemahaman tentang pengertian belajar tadi terdapat tiga atribut pokok dalam belajar yaitu proses,perubahan perilaku dan pengalaman.

1. Proses
  Belajar adalah proses mental dan emosional atau bisa disebut jugasebagai proses berpikir dan merasakan.Seseorang di katakan belajar jika fikiran dan perasaannya aktif.

2. Perubahan Perilaku
     Hasil belajar berupa perubahan perilaku dan tingkah laku baik itu pengetahuan,keterampilan motorik dan penguasaan nilai-nilai (sikap).Menurut para ahli psikologi tidak semua perubahan perilaku dapat di katakan sebagai hasil dari belajar,seperti misalnya perubahan perilaku karena mabuk minum minuman keras.Perubahan perilaku sebagai hasil belajar adalah perubahan yang berasal dari pengalaman dimana proses mental dan emosional terjadi.

3. Pengalaman
     Belajar adalah mengalami artinya belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan lingkungan,baik lingkungan fisik(buku,media,perpustakaan dan lainnya) maupun sosial(guru,teman,kepalasekolah dan lainnya).

Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang dapat menstimulasi dan menantang siswa untuk belajar.Guru yang mengajar siswa tanpa media biasanya akan kurang merangsang siswa.Belajar bisa melalui pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung.Pengalaman langsung misalnya siswa langsung mengalami materi yang di pelajarinya.

Sumber : Strategi Pembelajaran,Dra.Masitoh,M.Pd dan Laksmi Dewi, M.Pd.



Rabu, 02 Maret 2016

Dimensi-dimensi Hakikat Manusia


Ada empat macam dimensi hakikat manusia yaitu :
1. Dimensi keindividuan
2. Dimensi kesosialan
3. Dimensi kesusilaan
4. Dimensi keberagamaan


1. Dimensi keindividuan
    Lysen mengartikan individu sebagai "orang-seorang",sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat di bagi-bagi.Selanjutnya individu di artikan pribadi.Setiap anak manusia di lahirkan dengan memiliki potensi untuk berbeda dengan orang lain,atau menjadi dirinya sendiri.Tidak ada manusia yang identik di dunia ini.Bahkan manusia kembar sekalipun memiliki ketertarikan dan kecendrungan yang berbeda dalam perhatiannya terhadap sesuatu,ini di krenakan mereka memiliki potensi individualitas pada diri mereka masing-masing.Mereka tidak ingin di samakan dengan orang lain meskipun kembar yang berasal dari satu telur karena ingin mempertahankan kekhasannya.

  Untuk mengembangkan potensi keindividualitasan peserta didik sangat cocok menggunakan metode pembelajaran yang demokratis agar mereka di biasakan untuk tidak takut mengekspresikan diri mereka sendiri dan metode mengajar yang otoriter akan menghambat potensi ini bahkan mereka akan menjadi seserorang yang tidak memiliki ke pribadian,anak didik seperti ini rentan untuk selalu mengikuti arus.

2. Dimensi kesosialan
   Setiap manusia di lahirkan memiliki potensi sosialitas artinya setiap anak memiliki potensi untuk bergaul dengan lingkungannya dalam hal ini memberi dan menerima adalah kunci suksesnya pergaulan.Adanya dimensi sosialitas pada seseorang tampak jelas dengan adanya dorongan untuk bergaul.Dengan adanya dorongan untuk bergaul seseorang ingin bertemu dengan sesamanya sedemikian kuatnya dorongan bergaul manusia takut untuk di pejarakan jika melakuan perbuatan kriminal karena penjara adalah tempat putusnya pergaulan seseorang.

Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain baik bayi atau yang sudah dewasa seperti yang di katakan imanuel kant : Manusia hanya bisa jadi manusia jika berada di antara manusia.Tanpa orang lain manusia tidak dapat hidup lengkap dengan sifat hakikatnya sebagai manusia,mengapa demikian?karena manusia hanya mampu mengembangkan keindividualitasnya jika berinteraksi dengan manusia lainnya.

3. Dimensi kesusilaan
    Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi.Kesusilaan di artikan mencakup etika(persoalan kebaikan) dan etiket(persoalan kepantasan dan kesopanan).Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai.Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila,serta melaksanakannya sehingga manusia tersebut dapat dikatakan mahluk susila.Drijarkarra mengartikan manusia susila adalah manusia yang memiliki nilai-nilai,menghayati dan melaksanakan nilai2 tersebut dalam perbuatan.

4. Dimensi keberagamaan
    Dari dahulu manusia percaya adanya kekuatan supranatural yang mengatur alam semesta hingga terciptalah mitos2 tentang kekuatan supranatural tersebut untu mendekatkan diri padanya dengan upacara-upacara mistik.Namun setelah munculnya agama manusia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut dan mulai menganutnya.Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah mahluk yang lemah dan membutuhkan penopang dalam perjalanan hidupnya.

Sumber : PENGANTAR PENDIDIKAN,Prof.Dr.Umar Tirtarahatja dan Drs.S.L.La Sulo
    



Rabu, 19 November 2014

Kemampuan Menyadari Pada Manusia



Assalammualaikum...

Berbicara tentang manusia banyak sekali hal-hal yang menjadi polemik diantara ilmuan-ilmuan,dengan menghabiskan banyak waktu dan biaya dalam proses pemecahan rahasia-rahasia manusia dan mencoba mengungkapkannya.Banyak sekali hal-hal yang menarik dalam dirinya yg membedakannya dengan hewan yang ketika si manusia


itu tidak memanfaatkannya maka dia akan kehilangan salah satu fitrahmya sebagai manusia.Jadi sangat penting untuk mengexplore potensi-potensi ini agar proses pendidikan berhasil memanusiakan manusia.

Manusia memiliki sesuatu yang membedakan dirinya dengan hewan walaupun secara biologis struktur tubuh manusia hampir sama dengan hewan,dan di artikel ini saya hanya membahas salah satu kelebihan itu yaitu kemampuan manusia dalam menyadari apa yg akan dan telah ia lakukan maupun yg sekarang ia lakukan.Dari sudut ini manusia menembus batas ruang dan waktu,ia mampu mendeskripsikan masa lalu,masa depan dan sekarang dengan kesadarannya sebagai bentuk introspeksi diri,rencana dan pertimbangan2 saat mengerjakan sesuatu yang saat itu juga,apakah sesuatu yang dia lakukan benar atau tidak sesuai kadar keilmuannya,dari dimensi ini manusia perlu dididik agar dia bisa menentukan sikap apa yang harus ia lakukan ketika menghadapi masalah yang menimpannya.Pada hakikatnya manusia yang tidak terdidik dalam mengambil keputusan atau sikap dia cendrung mangambil pilihan yang nyaman untuk dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan effect dari sikap atau keputusan yang dia ambil dan disinilah hati nurani di perlukan untuk memfilter keputusan atau sikap yang akan dilakukannya agar selain tidak merugikannya juga tidak merugikan orang lain.

Didalam kemampuan menyadari manusia membutuhkan akal dan hati nurani,akal sebagai sarana untuk berpikir sedangkan hati nurani untuk filter dari pikiran-pikiran buruk yang merugikan pribadi-pribadi dan non-pribadi yang ada di sekitarnya.Dan akal dan hati nurani inilah yang perlu di didik utk mendapatkan pengetahuan perbuatan apa yang bereffect negatif dan positif,ketika pengetahuan ini sudah baik maka insyaAllah kemampuan anak didik dalam menyadari perbuatannya akan meningkat dan akan cendrung menghasilkan sikap yang positif di segala sisi kehidupannya.

Manusia bisa memisahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri entah sebagai objek atau subjek dan menngoreksi dirinya sendiri,di mana letak kesalahannya dan mana perbuatan baik yang perlu di tingkatkan sesuai kadar keilmuannya,dalam bahasa Drijakarta ini disebut "meng-aku",dan potensi ini juga perlu di explore agar kesadaran lebih mendominasi dalm setiap gerak langkah si manusia.

Menurut kaum rasionalis berkat kemampuan menyadari diri ini lah manusia mampu membedakan dirinya dengan yg lain dan ia sadar bahwa dia adalah mahkluk yang khas dan berkarakter.

Wallahualam,,,
Maaf jika ada yang salah sesungguhnya kesalahan berasal dari diri saya sendiri dan yang benar dtngnya dari Allah SWT...
Assalamualaikum...

Peran Penting Orang Tua Dalam Keberhasilan Pendidikan

                                            
Assalamualaikum
Sangat di sayang jika proses pendidikan anak lepas control peran dari orang tua anak didik,karena sesungguhnya yang memiliki peran terbesar dalam pendidikan anak adalah orang tua,kenapa ? Jawabannya adalah keputusan orang tua dalam merencanakan
masa depan anak,misalnya keputusan orang tua dalam memilih lingkungan tempat tinggal,sangat bijaksana jika orang tua memilih lingkungan tempat tinggal yang lebih cendrung memberikan input positif pada anak disetiap dimensi kehidupan anak.Jika lingkungan tempat tinggal cendrung ke arah positif insyaAllah anak akan menjadi pribadi yang setiap sikapnya cendrung ke arah positif karena pergaulan anak dari kecil melihat pribadi-pribadi yg positif dengan pengetahuan baik-buruknya suatu perilaku dari pergaulannya sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya.
Media paling ampuh utk membentuk pribadi anak agar cendrung ke arah positif adalah agama khususnya agama islam,jd orang tua perlu menanamkannya sedini mungkin,yang paling penting adalah menanamkan iman yang kuat kepada anak insyaAllah dengan kesadaran sendiri anak akan lebih menyukai sikap yg positif dari pada yang negatif dengan konsekuensi yang di ketahuinya jika melakukan perbuatan positif maupun negatif.Dan jangan lupa suasana rumah sendiri sbg tempat berteduh anak harus memiliki atmosfir yg cendrung ke arah positif dan alangkah baiknya orang tua juga harus memiliki ilmu pengetahuan tentang agama islam dan ilmu2 yang lainnya agar bisa memberikan tauladan utk di contoh anak,karena rentang antara anak-anak  dan dewasa seseorang itu cendrung meniru apa-apa yang dilihatnya baik untuk dirinya sesuai kadar keilmuannya yg pengetahuan itu di dapat dari kedua orang tuanya dan manusia-manusia yg ada di lingkungannya,yang secara tidak langsung akan menjadi kebiasaan dan akan berpengaruh pada keputusannya yang akan di ambilnya ketika dewasa kelak.
Ada juga yang berpendapat bahwa karakter orang tua menurun/diwariskan ke anaknya,menurut saya pribadi karakter dpt di bentuk asalkan anak dari kecil sudah di tanamkan nilai-nilai positif,yang paling penting adalah bagaimana agar anak dengan kadar keilmuannya dapat mengimani apa yang di larang bahwa konsekuensinya adalah azab di dunia atau akherat ini level terendah,jika sudah terbiasa dan bertambah kadar keilmuannya anak akan melaksanakan perintah kebaikan dan menjauhi larangan keburukan dengan iklash.
Apalagi anak abad 21,media2 negatif yang datang dari dunia luar yg memiliki kebebasan dalam melakukan apa2 yang tidak sesuai norma-norma kebaikan khususnya islam yang secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan anak untuk cendrung kearah yang negatif karena media2 seperti internet dan siaran2 televisi yang tidak mendidik, sehingga cara berpikir mereka tidak sesuai dengan norma-norma islami,jika mereka dididik untuk menjadi pribadi yg cerdas sejak dini dan dengan iman yg kuat insyaAllah anak-anak ketika dewasa tidak akan terpengaruh dan tetap bisa menahan diri dari melakukan perbuatan yg jauh dari nilai-nilai kebaikan.
Anak harus tw kenapa dia harus mengimani Islam dan dia harus di ajari untuk mencintai kebenaran karena akan berdampak positif terhadap kehidupannya kelak,anak akan menjadi pribadi yang cerdas dan tidak gampang terpengaruh cara hidup dunia luar maupun dari dalam,dalam arti negatif .Dia bisa menahan diri karena tw konsekuensinya dan dengan cerdas akan memikirkan nilai-nilai negatif yg di miliki suatu perbuatan yang terlihat jelas buruknya di mata kesadarannya.Dengan berpikir lebih bahkan anak akan secara spontan menolak pikiran-pikiran di luar pengetahuan nilai-nilai positif yg dia dapatkan sedari kecil,ketika pemgetahuannya menjadi kebiasaan,perisai anak atau persentase anak untuk berbuat di luar norma-norma kebaikan  adalah dengan kemungkinan 90%.
Ketika pengetahuan anak diwujudkan dalam pengamalan kehidupannya sehari-hari tentu saja dengan skenario yang di ciptakan orang tuanya setelah terbiasa akan menjadi gerak spontanitas,insyaAllah.
Maaf jika ada yg salah,walaahualam...
Sesungguhnya yang baik/benar datangnya dari Allah dan yang buruk dtgnya dari diri saya pribadi...
Assalamualaikum

Sabtu, 26 April 2014

Pentingnya Peran RPP dalam Proses Pembelajaran

RPP,sudah tentu anda yang berkecimpung di dunia pendidikan benar-benar tahu apa sih RRP itu?.RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan SK dan KD nya
,sumber pembelajaran dan isi dari materi pembelajaran ada di RPP.RPP di buat agar proses pembelajaran lebih tersistemisasi dengan maksud memberhasilkan proses pembelajaran agar tepat sasaran dan terukur menurut perkembangan potensi anak didik serta banyak pertimbangan-pertimbangan yang sesuai teori-teori yang berkaitan dengan dunia pendidikan seperti halnya pertimbangan psikologis anak.

Bukan hal yang mudah mentransfer ilmu dan mewujudkan potensi anak didik serta mengembangkan pengetahuannya secara mandiri karena Siswa dari segi klasikal merupakan sekelompok anak didik yang memiliki karakter dan cara penerimaaan serta respon yang berbeda-beda dalam kegiatan belajar dan mengajar serta sebagai individu memliki hak dan kebebasan yang tidak boleh kita langgar sebagai figur central (guru) di dalam kelas.

Maka dari itu peran teori-teori pendidikan dan pengamatan langsung dari guru yang bersangkutan (misalnya melakukan penelitian) sangat di butuhkan sebagai pertimbangan-pertimbangan dalam memilih strategi,metode dan pendekatan yang akan di gunakan dalam proses belajar dan mengajar dengan materi-materi yang sesuai dengan SK dan KD.

Salah memlih metode,strategi dan pendekatan akan berdampak negatif terhadap hasil akhir dari proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.Maka dari itu diperlukan perencanaan agar kegiatan belajar dan mengajar berjalan sesuai tujuan pendidikan yaitu mendewasakan manusia secara umum.Kegiatan belajar dan mengajar yang di rencanakan akan memiliki nilai positif karena pendidik akan lebih fokus mengamati anak didik untuk mengoreksi strategi,metode dan pendekatan yang berlangsung di dalam kelas dan setelah selesai kegiatan belajar dan mengajar pendidik memiliki kesempatan merevisi ulang RPP dengan hasil pengamatan tentang kekurangan dan kelebihan serta mana strategi,metode dan pendekatan yang tepat dan mana yang tidak tepat menurut kondisi masing-masing pribadi dalam arti individual dan keseluruhan dalam arti klasikal.

Ada beberapa teori yang bisa di jadikan latar belakang RPP misalnya psikologi,didaktik,psikologi atau lebih di utamakan jika pendidik mengamati langsung dan menciptakan teori-teori sendiri dari hasil pengamatannya tentunya dengan tidak mengurangi peran teori-teori para ahli pendidikan.

semoga bermanfaat....maaf kalo berantakan ane masih newbie...^_^ 



.

URGENSI PENDIDIKAN DARI SEGI PEDAGOGIK

Pentingnya pendidikan bagi manusia adalah karena Manusia Memerlukan Bantuan beda dengan hewan,misalkan anak ayam yang begitu lahir mereka bisa berjalan dan mencari makan sendiri sedangkan anak manusia begitu lahir
hanya bisa menangis,kalo lapar nangis disuapin pula dan kalau jalan harus di gendong.Anak manusia begitu lahir butuh pertolongan ibunya ketika ingin memenuhi kebutuhan fisik bahkan kebutuhan psikologis.Karena itu sudah menjadi keharusan manusia memerlukan pendidikan dari orang dewasa.Masih banyak contoh-contoh lain bahwa manusia mutlak memerlukan bantuan dalam mendidik dirinya sendiri.

Beda dengan anak ayam yang begitu lahir bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya karena hewan di kemudikan oleh insting yang di bawanya sejak lahir.

Berikut pendapat Drs.Uyoh Sadulloh,dkk mengenai insting :

Apakah insting itu?Insting adalah suatu kemampua psiko-fisis (jasmani-rohani) yang diturunkan atau merupakan pembawaan.Kemampuan itu menentukan pemiliknya untuk mengamati dan memerhatikan obyek-obyek dari jenis tertentu,untuk menghayati suatu keterangan emosional yang mempunyai kualitas khusus saat mengamati obyek yang demikian,dan berperilaku terhadap obyek itu dengan cara yang khusus,atau paling sedikit,menghayati suatu dorongan untuk berperilaku.

Pada manusia juga terdapat insting,seperti bayi yang tanpa belajar mempunyai insting ketika menghisap puting susu ibunya,dan ia menangis saat kelaparan dan banyak lagi contoh lainnya.Beda dengan hewan manusia tidak secara keseluruhan bergantung dengan insting banyak segi-segi kehidupan yang memerlukan bimbingan dengan belajar untuk memperjuaangkannya demi kelangsungan hidupnya.

Berikut pendapat  Drs.Uyoh Sadulloh,dkk mengenai pentingnya Pendidikan untuk manusia :

Tanpa usaha belajar dari pihak generasi muda dan usaha pendidikan dari pihak generasi dewasa,manusia tidak dapat mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya,sehingga dapat mencapai tingkatan yang lebih bermutu dan lebih mulia.

Jadi pendidikan bukan hanya semata-mata mentransfer ilmu pengetahuan melainkan juga mewujudkan potensi anak didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang di dapatnya.

Pendidikan diperlukan untuk mengurangi peranan insting dalam proses kehidupan manusia,jika insting lebih mendominasi seseorang dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan peranan pikiran dan budi manusia maka manusia akan berperilaku primitf layaknya hewan yang sepenuhnya di kendalikan insting.Disinilah peran pendidikan untuk meningkatkan mutu manusi ketaraf yang lebih mulia sebagai manusia yang berbudi pekerti luhur.

Ketika dewasa manusia harus mengerti pentingnya memahami bahwa manusia tidak hanya hidup sebagai mahluk individu yang memiliki kebebasan dan haknya sebagai individu tapi juga harus juga menghormati hak dan kebebasan pribadi atau individu-individu yang lain tanpa melewati zona-zona atau batas-batas norma yang berlaku dan menghindari sikap berlebih-lebihan dalam berperilaku.Bebas bukan berarti melakukan sesuatu semaunya tapi juga harus terikat dengan pengetahuan tentang positif atau negatifnya perbuatan agar tidak merugikan pribadi atau individu-individu lain sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.

Ada hubungan yang erat antara taraf kehidupan ekonomis dan taraf kualitas dan pemerataan pendidikan suatu negara yang sedang berkembang,pendidikan merupakan salah satu prioritas sektor pembangunan.Untuk itu perlu di bangun suatu sistem pendidikan yang memadai dengan barisan guru bemutu yang sangat dibutuhkan ( Drs.Uyoh Sadulloh,dkk).

Sumber dan Referensi : Drs.Uyoh Sadulloh,M.Pd.,dkk,PEDAGOGIK (ilmu mendidik).penerbit Alfabeta Bandung 2010


Jumat, 25 April 2014

Pentingnya Psikologi dalam Proses Mengajar dan Belajar

Sudah merupakan suatu kewajiban bagi setiap pendidik bekerja dengan profesional dan kompeten melaksanakan profesinya sesuai dengan keadaan peserta didik.Sangat penting mempelajari Ilmu Psikologi khususnya Psikologi pendidikan untuk para pendidik untuk memahami
perilaku anak didik yang berbeda dengan maksud merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan potensi anak didik.

Beda umur beda pemahaman dan beda karakter beda cara mendidiknya,pemahaman ini harus sudah menjadi dasar penyusunan rencana pembelajaran tanpa mengurangi peranan didaktik dan metodik.Para ahli psikologi pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak(kembar sekalipun)tak pernah memiliki respon yang sama persis terhadap situasi mengajar-belajar di sekolah.Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan,kematangan jasmani,intelegensi dan keterampilan motorik(Muhibin Syah : 2010).Mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda serta cara memecahkan masalah yang berbeda-beda.

Dilingkungan yang berbeda-beda anak didik berinteraksi dengan pribadi-pribadi yang berbeda-beda termasuk lingkungan sekolah dengan siswa atau guru,di mana terjadi proses psikologis dalam interaksinya.Di sinilah guru perlu memahami dan mengerti agar tidak salah dalam memperlakukan anak didik sehingga sikron antara cara dengan perkembangan psikologis anak didik.Tidak menutup kemungkinan pentingnya ilmu psikologi bukan hanya untuk para guru tetapi seluruh elemen masyarakat karena masyarakat juga berperan dalam perkembangan potensi anak didik.

Ada beberapa hal yang bisa di petik dari psikologi pendidikan menurut Muhibin Syah :

1. Proses Perkembangan Siswa
          Dikalangan para guru dan orang tua siswa terkadang timbul pertanyaan apakah perbedaan usia antara seorang siswa dengan siswanya membuat perbedaan subtansial (bersifat inti) dalam hal merespon pengajaran.Pertanyaan ini perlu dicari jawabannya melalui pemahaman tahapan-tahapan perkembangan siswa dan ciri-ciri khas yang mengiri tahapan perkembangan tersebut.

Tahapan-tahapan perkembanga yang perlu di pahami sebagai bahan pertimbangan pokok dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar adalah tahapan-tahapan yang berhubungan  dengan perkembangan ranah cipta para siswa yang menjalani proses belajar mengajar dan pembelajaran materi tertentu,serta dalam mengikuti proses belajar-mengajar yang di kelola guru kelas.

2. Cara Belajar Siswa
           Di manapun proses belajar berlangsung alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu siswa agar belajar sebaik-baiknya.Oleh karena itu,adalah hal esensial (pokok,dasar) bagi para guru untuk memahami sepenuhnya cara dan tahapan belajar yang terjadi pada siswa.

Pengetahuan anda yang pokok mengenal proses belajar tersebut meliputi::
  1. Signifikansi (arti penting) belajar
  2. teori-teori belajar
  3. Hubungan belajar dengan teori
  4. Fase-fase yang di lalui dalam peristiwa belajar
3. Cara Menghubungkan Mengajar dengan Belajar
            Tugas utama guru sebagai pendidik sebagaimana yang di tetapkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional kita adalah mengajar,secara singkat mengajar adalah kegiatan menyampaikan pengetahuan dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam pengetahua tersebut kepada siswa.Agar kegiatan mengajar ini diterima oleh para siswa,guru perlu berusaha membangkitkan gairah  dan minat belajar mereka.Kebangkitan gairah dan minat belajar para siswa akan mempermudah kegiatan mengajar dan kegiatan belajar.

              Oleh,karena itu,sebagai calon guru atau guru yang sedang bertugas,anda sangat di harapkan menerti benar seluk-beluk mengajar baik dalam arti individual(seperti remedial) maupun dalam arti klasikal.Dalam hal ini anda dituntut pula untuk memahami model-model mengajar,metode-metode mengajar dan strategi-strategi mengajar.Kemudian metode dan strategi ini anda terapkan secara cermat dalam proses belaja-mengajar yang anda kelola.

4. Pengambilan Keputusan untuk Pengelolaan PMB
               Dalam mengelola sebuah proses belajar-mengajar (PMB),seorang guru dituntut untuk menjadi figur central yang kuat dan berwibawa namun tetap bersahabat.Sebelum mengelola sebuah proses belajar mengajar,anda perlu terlebih dahulu merencanakan satuan bahan atau materi dan tujuan-tujuan yang hendak di capai.sesuai perencanaan materi dan tujuannya penyajiannya,anda perlu menetapkan kiat yang tepat untuk menyampaikan materi tersebut kepada siswa dalam situasi belajar mengajar yang efisien.

                Agar sebuah pengelolaan proses belajar mengajar mencapai sukses,seorang guru hendaknya memandang dirinya sendiri sebagai profesional yang efektif.Lalu pandangan positif ini di ejawantahkan dalam bentuk upaya-upaya pengambilan keputusan mengenai materi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan para siswa dan penegasan tujuan-tujuan penyajian tersebut secara ekplisit(tersurat dan gamblang).Keputusan yang di ambil selanjutnya adalah penetapan pendekatan,metode dan strategi mengajar yang menurut tujuan psikologis sesuai dengan jenis dan sifat materi,tugas yang akan di berikan kepada siswa dan situasi belajar mengar seperti yang di harapkan.


sumber dan referensi : Muhibbin Syah,Psikologi Pendidikan,2010,Pt.Remaja Rosdakarya

Senin, 21 April 2014

Mendidik,Mengajar dan Melatih

Ada tiga unsur yang ada di dalam Pendidikan yaitu : mendidik,mengajar dan melatih.Ketiga komponen ini memiliki arti yang berbeda-beda pada hakikatnya
tapi orang awam beranggapan pengertian ketiga komponen ini sama.

Mendidik menurut Darji Darmodiharjo menunjukan usaha yang lebih di tujukan kepada pengembangan budi pekerti,hati nurani,semangat,kecintaan,rasa kesusilaan,ketakwaan dan lain-lainnya.Jadi mendidik adalah lebih condong membangunkan potensi ke arah emosional,akhlak dan spriritual sekelompok anak didik dan mengajar bearti memberi pelajaran tentang berbagai ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan berpikirnya (Drs.Uyoh Sadulloh) dan lebih memprioritaskan kemampuan kognitif sekelompok anak didik sedangkan latihan lebih kearah untuk mewujudkan potensi yang bersifat psikomotoris(keterampilan) seperti misalnya latihan gitar,menggambar,karate dan lain-lain.

Dididik,diajar dan dilatih,ketiga komponen ini sangat penting dalam pendidikan untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan agar anak didik bisa mengaktualisasikan potensinya dalam realitas kelangsungan hidup mereka kelak.Ketiga komponen ini memiliki tujuan yang berbeda-beda secara khusus.

Tujuan mendidik adalah untuk mencapai kepribadian yang terpadu,yang terintegrasi menuju pendewasaan diri.Para ahli ilmu mendidik telah bersepakat bahwa tujuan mendidik adalah untuk mencapai kedewasaan dan tujuan pengajaran adalah agar anak didik mampu berpikir ideal saat mereka dewasa nanti sedangkan latihan dengan tujuan agar sekelompok anak didik memiliki keterampilan saat mereka dewasa.

Dapat di simpulkan ketiga komponen itu,yaitu mendidik,mengajar dan melatih terintegrasi menjadikan manusia yang terdidik yang idealis dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan ahli-ahli ilmu pendidikan.



referensi : Drs.Uyoh Sadulloh,M.Pd.,dkk,PEDAGOGIK (ilmu mendidik).penerbit Alfabeta Bandung 2010

Hakikat Manusia Dan Pengembangannya

Sasaran pendidikan adalah manusia dengan maksud untuk mengambangkan potensi-potensi kemanusiaan yang sudah ada di dalam diri manusia itu sendiri yang merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia seutuhnya,mandiri dan bertanggung jawab terhadap
dirinya sendiri serta orang lain.

Proses pendidikan manusia akan berjalan lancar jika si manusia mengetahui dan bisa menggambarkan siapa manusia itu sebenarnya.Alasan kenapa objek pendidikan yaitu manusia perlu mengetahui dan dpat menggambarkan siapa manusia adalah karena sains dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini,lebih-lebih pada masa mendatang sehingga mendapatkan berbagai manfaat yang dapat di ambil darinya,di samping juga ada juga dampak negatif dari perkembangan sais dan teknologi itu sendiri.

A. Sifat Hakikat Manusia

Sifat Hakikat manusia adalah ciri-ciri karakteristik manusia yang mebedakannya dengan hewan meskipun dari segi biologis terdapat beberapa kesamaan antara manusia dan hewan.Perbedaan manusia dan hewan adalah manusia memiliki akal sedangkan hewan tidak.Manusia bisa berpikir sedangkan hewan tidak,setidaknya itulah perbedaan mencolok menurut sebagian besar umat manusia.

Wujud sifat manusia yang tidak di miliki hewan menurut paham eksistensialisme :
  1. Kemampuan menyadari diri
  2. Kemampuan bereksistensi
  3. Pemilikan kata hati
  4. Moral
  5. Kemampuan bertanggung jawab
  6. Rasa kebebasan
  7. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
  8. Kemampuan menghayati kebahagiaan
B. Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia serta Potensi,Keunikan dan Dinamikanya
  1. Dimensi keindividualan
  2. Dimensi kesosialan
  3. Dimensi kesusilaan
  4. Dimensi keberagaman
C. Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia

Seperti telah berulang kali di katakan sasaran pendidikan adalah manusia sehingga sudah menjadi kewajiban atau tugas pendidikan adalah mengembangkan dimendi hakikat manusia.

Manusia lahir dengan di karuniai dimensi hakikat manusia yang masih dalam bentuk potensi Belum teraktualisasi menjadi kenyataan dan sudah menjadi tugas Pendidikan untuk mewujudkan potensi ini menjadi kenyataan.Misalnya seseorang lahir dengan bakat seni memerlukan pendidikan untuk menjalani proses menjadi seniman terkenal.Meskipun pada dasarnya pendidikan adalah baik pendidikan juga tidak luput dari kesalahan yang mengakibatkan penyimpangan seperti misalnya di sebut dengan salah didik karna yang menjadi pendidik adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.Sehubungan dengan itu ada dua kemungkinan yang terjadi :
  • Pengembangan yang utuh, dan
  • Pengembangan yang tidak utuh
To be continiu insyaAllah

referensi : Prof.Dr.Umar Tirtarahardja,Drs.S.L.La Sulo,Pengantar Pendidikan,april 2005,PT.rikena Cipta

Sabtu, 09 November 2013

Tips Menghadapi Siswa �Nakal�

Oleh: Arif Luqman Nadhirin
Sebagai insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Kejuruan yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa �nakal� adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh �kenakalan� lain yang kerap dilakukan siswa. Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.

Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label �nakal�? Penulis sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli �nakal�. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label �nakal� apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisilain ukuran �nakal� tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya �nakal� bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos/ tidak masuk sekolah adalah siswa yang �nakal�, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang �nakal�. 


Menurut saya tidak ada yang namanya siswa �nakal�, yang ada adalah;


  • Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.
  • Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku �nakal�. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
  • Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
  • Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya.
  • Siswa yang menjadi �korban� dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah �korban� dan berusaha untuk membalas dendam.
  • Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa �nakal� karena merasa ingin bebas.
  • Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.
  • Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
Itulah beberapa sebab mengapa siswa berperilaku �nakal� saat di sekolah. Saat kita tahu latar belakang masalah perikau murid kita, tentunya kita akan merasa iba dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai pendidik mulai untuk menghentikan label negatif kepada siswa.

Beberapa tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang �nakal�, adalah:


  1. Berdo�a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo�a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.
  2. Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap �nakal�. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.
  3. Hentikan ucapan atau label �nakal� pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do�a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo�a agar dia menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.
  4. Panggilah dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat �nakal�. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.
  5. Latilah dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.
  6. Apabila siswa tersebut berbuat �nakal�. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka �saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang�. �saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang�.
  7.  Apabila siswa tersebut berbuat �nakal�. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuaha atau membaca Al-Qur'an.
  8. Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat �nakal�. Rekamlah dengan HP dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.
  9. Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat �buruk� konsekuensinya buruk.
  10. Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan mebuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.
Itulah sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah tidak ada siswa yang �nakal�. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan kita, atau mungkin tangan orang lain. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Sumber:

Pengalaman pribadi penulis



Sabtu, 19 Oktober 2013

Guru Sejati dan Revolusioner

Oleh : Arif Luqman Nadhirin
Setiap orang pasti sepakat kalu seorang guru harus menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Bukahkah guru itu digugu lan ditiru. Namun, apakah guru cukup menjadi teladan? Menurut penulis tidak. Mengapa? Karena guru juga harus sejati dan revolusioner. Artinya, yang perlu disoroti di sini juga semangat guru dalam mengemban tugas mulianya.

Secara implist, bisa disimpulkan ada �guru sejati� dan �guru aspal�. Guru sejati adalah meraka yang menjalankan tugasnya dengan penuh semagat keikhlasan dan semangat revolusioner mendidik anak bangsa. Sedangkan guru aspal adalah mereka yang berorientasi pada �rupiah� belaka, mengajar tanpa mendidik, memenuhi presensi tanpa menjadi motivator sejati bagi siswa di sekolah.

era global seperti ini memang menuntut guru untuk menjadi pragmatis. Artinya, guru butuh kesejahteraan dan kemakmuran. Dan hal itu salah satunya diperoleh dari tugasnya sebagai guru di lembaga pendidikan. Di sisi lain munculnya kebijakan sertifikasi semakin menjadikan guru salah niat dalam mengajar. Padahal kebijakan tersebut seharusnya menjadikan guru lebih kreatif, inivatif, dan profesional dalam mengemban misi mencerdaskan anak bangsa, bukan sekedar mengejar rupiah. Oleh karena itu, hal ini harus segera diluruskan.

Lalu bagai mana caranya? Caranya adalah dimulai dari mencegah munculnya guru aspal. Karena apa artinya rupiah, jika guru tidak biasa menjalankan tugas sucinya. Maka sebagai insan pendidikan, hal itu harus disikapi guru dengan arif. Salah satunya adalah dengan mencegah munculnya guru aspal dengan beberapa solusi dan trobosan yang efektif. Setidaknya ada beberapa cara, antara lain:

Pertama, memperketat penerimaan guru, baik sekolah berstatus swasta maupun negeri, PNS atau GTT. Mengapa demikian? Karena, selama ini masih banyak orang masuk sekolah dan menjadi guru hanya �berbasis KKN�. Artinya, asalkan punya kenalan pihak sekolah/dinas, asalkan punya uang ratusan juta rupiah, maka akses masuk jadi guru juga mudah.

Kedua, mempertegas aturan dan kiteria atau syarat menjadi guru. Selama ini, penerimaan guru tidak ketat dan kriterianya tidak jelas. Kita ketahui bahwa setidaknya seorang guru harus memiliki empat kompetensi pendidikan, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Ketiga, guru harus linier, sesuai jurusannya. Artinya, jika guru itu lulusan Pendidikan Agama Islam, maka yang diajar gura mata pelajran agama Islam pula. Masih sering kita jumpai fakta di lapangan, guru mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Misalnya, lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia mengajar materi bahasa Inggris, lulusan Pendidikan Biologi mengajar materi Ekonomi, dan sebagainya.

Yang jelas dan utama adalah guru harus memenuhi kualifikasi akademik dan kriteria plus-plus. Artinya, selama ini banyak guru yang pandai secara akademik, namun tidak mampu menjadi pendidik yang mampu memberikan motivasi dan semangat bagi siswanya. Inilah yang disebut dengan �kemampuan puls-plus� yang jarang dimiliki oleh guru. Bahkan banyak guru killer yang ditakuti siswanya, guru yang selalu memakai metode CBSA (Catat Buku Sampai Abis), guru yang mengajar ala kadarnya, banhkan guru yang centil/gatal kepada sisiwinya, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah yang perlu dibenahi, jangan sampai guru aspal merusak pendidikan di negara ini.

Guru Revolusioner
Apakah cukup dengan itu, guru menjadi penentu pendidkan di negara ini? Tentu tidak, yang tak kalah urgen adalah perlunya guru revolusioner yang mengajar penuh dengan motivasi tinggi dengan semangat memajukan pendidikan Indonesia. Menurut Dian Marta Wijayanti, guru revolusioner memiliki beberapa ciri.

Pertama, dia selalu mengajar penuh rasa ikhlas tanpa pamrih. Artinya, dia tetap butuh kesejahteraan, tetapi bukan itu tujuannya. Mengapa? Karena menjadi guru bukanlah tujuan, karena posisi guru hanyalah alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia yang masih jauh dari harapan.

Kedua, memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Artinya, bagai mana mungkin siswa akan bersikp disiplin kalau gurunya tidak.

Ketiga, selalu menjadi dambaan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa agar semangat dalam mencari ilmu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Keempat, mampu mengajarkan kepada siswa, bahwa hidup tidak sekedar menjadi manusia berilmu, akan tetapi juga beriman dan beramal.

Kelima, selalu mengajarkan kepada siswa bahwa hidup bukan sekedar �mejadi apa� (to be), tapi yang lebih penting adalah �berbuat apa� (to do).

Inilah yang harus ditanamkan kepada siswa. Dengan demikian, wajah pendidikan kita akan semakin berseri-seri, jika para gurunya sejati dan revolusioner, bukan aspal.

Maka dari itu jadilah guru sejati dan revolusioner, bukan aspal. Bagaimana menurut Anda?

Keterangan:
Tulisan ini terinspirasi dari Artikel berjudul �Guru Revolusioner�, karya Dian Marta Wijayanti (Suara Merdeka edisi 19/10/2013)

Kendal, 19 Oktober 2013 M